Februari 17, 2015

Jelajah ke Karang Agung

             Pantai Karang Agung


Petualanganku ke Pantai Karang Agung. Satu pantai di Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen yang masih asri dan mulai dikenal orang-orang.

Februari 13, 2015

Homeland - Padangsidimpuan


      Video Perjalanan 


Perjalanan 10 hari, bernostalgia dengan orang-orang, teman-teman, makanan khas dan suasana tanah kelahiran. I love Sidimpuan , Salumpat Saindege :) 


Mungkin banyak dari kalian yang belum tahu dimana Padangsidimpuan. Ya, inilah sebuah kotamadya di bagian selatan Sumatera Utara. Asal usul nama Padangsidimpuan sendiri berasal dari kata padang na dippu, yang artinya padang/hamparan rumput yang luas berada di tempat yang tinggi. Namun entah mengapa di kartu tanda penduduk dan database negara kita, nama kota ini menjadi Padangsidempuan, padahal filosofinya sendiri ya Padangsidimpuan. Kota ini dikenal juga dengan kota salak. Berbeda dengan salak pondoh yang ada di Pulau Jawa. Salaknya berwarna merah dengan perpaduan rasa asam, manis dan juga sepat. Ada juga yang kualitas unggulan, namanya salak sibakua. Kalau salak ini buahnya lebih besar, rasanya manis, dan sedikit berpasir bagian dagingnya. Untuk mengetahui lebih detail tentang kota ini, alangkah lebih baiknya baca informasi langsung dari website resminya disini .

Teman-temanku atau orang-orang sering menyebut kota kelahiranku ini berada di Padang. Jelas-jelas saya sering mengatakan bahwa Padangsidimpuan berada di Sumatera Utara. Mungkin karena berawalan kata padang membuat mind set mereka langsung tertuju dengan Kota Padang. Memang sih, kota Padangsidimpuan jaraknya lebih dekat dengan Kota Padang yakni 9-10 jam. Sedangkan dari Kota Medan bisa lebih dari itu. Waktu tempuh ini hampir sama dengan jarak Purwokerto ke Jakarta. Pikir sejenak, jarak ibukota provinsi dengan daerah otonominya lumayan jauh. Inilah yang membuat perkembangan kota ini masih stagnan meski sudah menjadi Kotamadya. Telaah lebih dalam, informasi dan perhatian dari pusat/provinsi terhadap daerah pinggiran biasanya berjalan dengan lambat/kurang. Contohnya saja bisa kita perbandingkan dengan Pulau Jawa dan Pulau lainnya. You know what I mean? Rumornya dari dulu sih, akan memisakhan diri dengan Provinsi Sumatera Tenggara, tetapi belum tahu entah sampai kapan provinsi itu akan terbentuk. 

Oke, saya masih akan berpanjang lebar lagi mengulas kota istimewa ini. Kenapa Istimewa? Ya iyalah, namanya juga pertama kali melihat dunianya disana, makan makanannya juga masakan khas disana, ya walaupun sekarang udah pindah ke Jawa, masih bangga dan cinta kali aku sama Sidimpuan. Inilah beberapa yang aku rindukan selama 10 hari disana dan ini wajib dilakukan kalau kalian berada di Sidimpuan.
  • Wisata Kuliner
       Makanan di Sidimpuan itu enak-enak. Banyak makanan khas yang wajib dicoba saat disana. Diantaranya ada mie kuning (mie gomak), lontong sayur, karupuk sambal di Jalan Melati, sate nauli rajawali, durian depan Toko Subur, martabak kubang Jalan Merdeka, roti cane Jalan Kenanga, mie rebus di Siborang, tenda biru di pajak lama, dan lain-lain. Dulu pas masa kecil saya, buah-buahan hutan tropis banyak dijual disana, seperti, salak merah, pisang monyet, durian (sijantung dan sisere paling mantep rasanya), bukbak, tungir-tungir, rambutan hutan, pikok pikok, kapundung, dan buah-buahan lain yang gak pernah saya temukan di Jawa. Namun, kepulangan saya kemaren, durian tidak dalam musim panen, sedangkan buah-buahan yang dulu sering saya makan di sekolah dasar tidak lagi dijumpai disana. Sayang sekali bung. Padahal itu yang membuat rindu akan Sidimpuan. Apakah buah-buahan itu sudah punah? Semoga saja tidak.


  • Wisata Alam
         Kota ini minim sekali dengan obyek wisata. Padahal saya merasa potensi disana tidak kalah dengan daerah lain. Tempat wisata terkenal disana yang sempat saya kunjungi adalah Aek Sijornih, air terjun buatan yang bertingkat-tingkat dengan air yang deras dan jernih. Katanya sih airnya berasal dari sawah, tetapi saya tidak percaya, karena beningnya air tersebut dan juga sangat deras. Letaknya di perbukitan dengan banyak pohon kelapa di sekitarnya. Aek Sijornih berada di Kecamatan Sayurmatinggi. Berjarak tempuh 30 menit dari Sidimpuan. Katanya juga, ada tempat wisata baru disana, yaitu Air Terjun Marancar, sayangnya saya tidak sempat mengunjungi tempat itu. Kemudian, ada Parsariran, wisata pemandian di sungai Batangtoru. Sungainya alami, jernih, dan cukup dalam. Ada banyak pondok-pondok disana untuk tempat kita beristirahat dan menyantap makanan. Biasanya sih digunakan untuk acara perpisahan sekolah (coret-coretan), meski tak jarang pula khayalak umum mengunjungi tempat ini. Selain itu, ada Tor Simarsayang. Bukir dengan view kota Sidimpuan. Disini banyak warung tenda (gubug) untuk bersantai, ada pula tempat karaoke, dan penginapan. Tempat ini terkenal dengan tempat nongkrongnya muda-mudi memojokkan diri, bahkan tak jarang pula yang kena razia. Sementara wisata lainnya yaitu pemandian air panas di Sipirok.  

  • Kongkow
     Tempat kongkow yang wajib kita kunjungi yaitu : (1) Jalan Baru. Sebenarnya ini merupakan jalan lintas truk-truk yang dibangun antara tahun 2007/2008. Kemudian disulap menjadi tempat nongkrong oleh anak-anak muda disana. Mungkin karena jalanannya lurus dan mulus, lumayan sepi, sehingga cocok untuk dijadikan area mojok dan balapan. Ratusan warung dan cafe di sepanjang jalan baru tersebut. Dari yang tempatnya sederhana sampai dengan yang modern. Tiap warung mempunyai pondok/tenda yang cukup banyak di antara pohon sawit. Makanan yang wajib dicoba antara lain karupuk sambal, kelapa muda, dan jagung bakar. Manohara dan lutfi adalah tempat yang saya rekomendasikan. (2) Tugu Salak. Tempat ini berada di pusat kota. Tempat makannya orang-orang disana sekaligus menghabiskan waktunya. Ada pula delman yang akhir-akhir ini muncul di kota ini. (3) Kafe Freekick di Jalan Kenanga. Ini satu-satunya kafe yang selalu rame dari sore sampai malam hari. Tak ada salahnya mampir dan mencoba suasana klasik di kafe ini. (4) Horas. Katanya sih, ini jadi tempat nongkrong baru. Toko roti dan banyak makanan dijual disini. Saya sendiri belum mampir ke tempat ini.

Itulah beberapa hal mengenai Sidimpuan. Kota dimana kosakata "tong", "dabo", "kele", bisa saya dengarkan dengan logat batak. Dimana huruf f dan v diucapkan sama dengan huruf p. Huruf z diucapkan sama dengan huruf j. Dimana "kereta" adalah sepeda motor, dan "galon" adalah pom bensin. Sebuah keunikan yang tidak saya dapatkan di Jawa dan sangat sering saya rindukan.


Sunrise Nirwana di Punthuk Setumbu

Banner Lomba Periode 1
Poster Lomba

Video Perjalanan
Wisata di Kabupaten Magelang yang satu ini memang belum begitu terkenal di kalangan wisatawan domestik. Buktinya saja banyak teman-teman saya tak mengetahui tempat ini. Namun lain halnya dengan wisatawan asing yang sudah sering mengunjungi Wisata Alam Borobudur Nirwana Sunrise yang tidak jauh letaknya dari Candi Borobudur. Terlebih apabila dibandingkan harga yang dipatok dengan melihat matahari terbit di Kawasan Candi Borobudur, tempat ini tak kalah daya tariknya memberikan pesona wisata Nusantara.

Punthuk Setumbu
Singkat cerita, kami berangkat dari Purwokerto sehabis maghrib menuju Wonosobo. Tujuan awal kami sebenarnya memang untuk berkunjung ke Desa Tertinggi di Pulau Jawa, ya apalagi kalau bukan Desa Sembungan yang terkenal dengan matahari terbitnya itu. Manusia memang perencana yang baik, tetapi takdir Tuhan berlaku lain. Waktu itu, kami sampai di Kota Wonosobo tepat pukul 21.00 malam. Udara saat itu sangat dingin. Awalnya kami singgah untuk makan mie ongklok di satu warung dekat Alun-Alun. Selagi makan, kami ragu untuk melanjutkan perjalanan ke Dieng dikarenakan acara yang akan kami datangi hampir selesai dan akan percuma pula bila kami tetap melanjutkan perjalanan untuk melihat acara tersebut. Apalagi kami tidak membawa tenda. Hingga akhirnya kami galau dengan rencana awal tersebut. Saya langsung memberikan ide dengan merubah destinasi tujuan Kota Semarang atau Magelang dan Yogyakarta. Akhirnya dua teman saya, lebih memilih Magelang dan Yogyakarta.

Okeeeee, sebelum melanjutkan perjalan menuju Magelang. Kami istirahat sejenak di rest room salah satu SPBU di Wonosobo untuk sekedar melemaskan badan. Perjalanan kami mulai tepat pukul 23.00 WIB. Kami melewati jalur Wonosobo-Magelang dengan berbekal Google Maps. Melewati malam yang dingin dengan mengendarai sepeda motor. Saya boncengan dengan Yanu, sementara Darius sendirian. Jalanan cukup sepi dan berbelok-belok. Ditambah banyaknya jalanan yang belum dilengkapi dengan lampu penerangan jalan. Membuat momen malam itu sangat menantang dan seru tentunya. Merasakan kebebasan dengan melakukan hal yang tak biasa. 

Saat itu, kami melewati suatu desa, entah desa apa namanya. Kami menemukan keramamian, orang-orang berdiri di pinggir jalan dan beberapa polisi (Brimob) yang sepertinya sedang mengamankan sesuatu. Saya sempat memikirkan hal buruk. Rupanya Yanu berpikiran yang sama seperti saya. Kami sama-sama berpikir, "mungkin ada penggrebekan ter*ris". Mengingat daerah Wonosobo perbatasan Magelang rawan dengan persembunyian kelompok seperti itu. Kami pun melanjutkan perjalanan menuju Magelang dengan hati-hati. Sampailah kami di Desa Borobudur pukul 02.00 pagi. 

Disana kami bertanya jalan menuju Punthuk Setumbu yang kami baca di Google Maps hanya beberapa ratus meter dari tempat itu. Seorang bapak yang kami tanyai, menawarkan jasa untuk mengantarkan kami menuju kesana dengan tarif Rp 40.000. Kami berdiskusi terlebih dahulu. Tak lama, dengan menolak tawaran tersebut, kami pun pergi dengan berbekal Google Maps lagi, kami mengikuti arah jalanan yang ditampilkan. Sampailah dengan masuk gang kecil, belok kanan dan kiri, lalu berujung dengan kontur tanah yang ditumbuhi rumput liar. Langsung saja teman saya panik dan khawatir melihat pemakaman di sebelah kiri. Petunjuknya menyesatkan. Sebuah jalan buntu. Kami pun berbalik arah. 

Saya memikirkan karena itu masih terlalu pagi. Kami pun berhenti di angkringan di jalan utama Desa Borobudur. Kami beristirahat disana, membeli minuman hangat, dan sekaligus tidur sampai menjelang subuh. Banyak bercerita dengan bapak penjual angkringan tersebut. Beliau menunjukkan arah yang kami tuju dengan menggambarkan denah dengan lengkap beserta arah-arahnya. Setelah bangun, kami pamit dan tak lupa berterimakasih kepada si bapak.

Tepat waktu subuh. Kami mampir di mesjid terlebih dahulu untuk melaksanakan ibadah. Udara pagi sangat segar. Dinginnya sangat berasa di kulit. Brrrrrrr…kami melewati jalanan desa dan perbukitan. Banyak hotel disana yang konsepnya menyatu ke alam gitu. Maklum dekat Borobudur. 



Punthuk Setumbu sisi kanan
Sampailah di Punthuk Setumbu. Tempat parkir motor di depan rumah warga sekitar. Kemudian membeli tiket masuk sebesar Rp 5.000 (kalau tidak salah). Lalu menaiki bukit dengan jalanan yang sudah tersusun dengan batuan. Rasa penasaran sudah berkobar dan tidak mau terlambat menyaksiakan sunrise, kami berjalan cepat dan kadang lari-lari kecil. Untungnya bukit itu tidak terlalu tinggi (mungkin sekitar 300 meter). Kira-kira 15 menit saja sudah berada di puncaknya. Pengunjung asing pun lumayan banyak. Kami pun menunggu matahari terbit di atas sana. Matahari mulai menampakkan cahayanya di balik Gunung Merapi secara perlahan. Borobudur pun mulai terlihat stupanya dengan kabut di bagian atas dan sekitarnya. Pohonan hijau pun terlihat di sekitar tempat itu. Woooow keren...Disana berasa syahdu banget, kicauan burung pagi hari, suara binatang serangga, cuaca cerah, matahari terbit, dan juga kabut.
Punthuk Setumbu

Banyak fotografer dengan peralatan tempurnya mengabadikan sunrise nirwana. 

Banyak Wisatawan
Saya awalnya overestimate dengan Punthuk Setumbu. Mungkin hasil foto yang saya lihat menggunakan kamera yang mumpuni dengan angel yang bagus pula. Itulah alasan saya mengajak kedua teman saya berlabuh ke Magelang. Sejauh itu, wisata alam Punthuk Setumbu cukup menarik untuk dikunjungi. Selain mudah diakses, fasilitas disana cukup lengkap.
Jalanan Desa

Tak lama setelah matahari terlihat sempurna, kami meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan. Ada hal yang menarik, yaitu pematang sawah di sepanjang jalanan Desa Borobudur dengan sorotan cahaya mentari pagi yang masih silau-silaunya. Indah sekali jalanan itu. Sangat berbeda. 



Kami berhenti disana. Terlihat stupa Borobudur dari tempat kami berdiri. Pagi itu sangat damai. Suasana desa yang masih sepi. Nyaman untuk berlama-lama disana.
Desa Borobudur

Lontong Sayur

Kemudian melanjutkan dengan makan pagi 
di jalan protokol 
Kota Magelang 
yang mengarah 
ke pusat kota. 






Tak lupa pula, berfoto di Candi Mendut. 
Sungguh sebuah perjalanan yang tak diduga. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang dapat kita dustakan? Ini hanyalah sebagian pesona wisata alam Nusantara.

Candi Mendut