Translate

Maret 18, 2015

Piknik ke Curug Telu

Edisi jalan-jalan kali ini, setelah lama untuk merencanakan untuk pergi ke curug ini akhirnya kesampean juga setelah perjalannya sebelumnya sempat kesasar muter-muter di pematang sawah, naik bukit turun bukit, menyusuri sungai, dan sampai digigit lintah. Cerita kali ini ditemani dengan teman kuliah saya saat mendaki Gunun g Prau, Dieng.

Malam harinya pukul 23.xx WIB, sms dari Atikah ngajakin piknik ke curug telu. Kumpul jam 7.00 pagi on-time di kosannya bareng temen-temen kelasnya. Esok paginya, dia telepon lagi ngebangunin saya dan bilang kalau semuanya sudah kumpul. Dengan mata masih sembab dan mengantuk, dengan sedikit terburu langsung cuci muka dan gosok gigi, tanpa mandi, dan langsung membawa perlengkapan mandi untuk mandi-mandi di curug. Sampailah di kosan Atikah. Buset. Masih sepi broh. Terlalu. Saya dibohongin sama Atikah, dengan alasan saya sering kesiangan dan datang telat. Kita duduk di depan kosan nungguin temen-temen lainnya yang ada masih di jalan, baru bangun, lagi mandi, dan lagi bungkusin makanan buat kita makan nanti.

Akhirnya kita berangkat pukul 8.30 WIB, dengan beberapa adegan ngambek-ngambekan oleh seorang tersangka acara piknik kita hari itu akibat yang lainnya datang on-time dengan kita jemput dahulu ke kosannya. Hari itu hari jum’at juga. Jadi waktu untuk melaksanakan Jum’atan menjadi pertimbangan kesiangan dan nyatanya kami berangkat sungguh siang sekali.

Jarak menuju kesana memang tidak jauh, sekitar 30 menit perjalanan motor. Dari arah Purwokerto menuju Baturraden, sebelum pintu gerbang, kita belok kanan mengikuti jalan, sampai ketemu pertigaan sebelum SMP Karangsalam, belok ke kanan menuju ke Desa Limpakuwus, ketemu lagi pertigaan ambil ke kiri dengan jalanan sedikit menanjak, terus mengikuti jalan, acuhkan pertigaan jalan setelah lapangan, lurus terus sampai ketemu kandang sapi di sebelah kanan, naik sedikit, ambil ke kanan dengan jalan masih berbatu dan tanah, ikuti terus jalannya sampai ujung jalan. Kedua kalinya saya kesana, warga sekitar sudah membuatkan jalan menuju curugnya, membuat tempat parkir untuk kendaraan kita dengan tarif Rp. 2.000 saja dan ada pula warung kecil yang berjualan disana.

Kembali ke cerita pertama. Sampailah kami di Desa Karangsalam. Ya, sebuah desa di Kecamatan Baturraden yang memiliki potensi alam yang melimpah. Saat itu, kami memarkirkan motor kami di pinggir jalan sebelah rumah warga. Lalu melanjutkan perjalanan darat sekitar 15 menit untuk menuju curugnya setelah bertanya ke petani yang sedang bekerja di sawah.

Jembatan kecil
Orang-orang yang kami jumpai pun sangat baik dan ramah. Setiap kami bertanya, selalu diberikan jawaban terbaik mereka. Bahkan kami diantarkan menuju jalan kesana oleh ibu-ibu yang sedang menggarap sawahnya. Ibu itu bilang, kalau kemaren ada juga rombongan dari Surabaya yang datang ke curug ini.

Kolam di bawah jembatan
Akses Tangga PDAM
Melewati sebuah jembatan kecil. Lalu berbelok ke arah kanan, dengan fasilitas tangga milik PDAM kami menuruni tangga tersebut. Cukup curam juga menuju ke bawah sana. Nampaklah, air deras mengalir dari atas sebelah kiri. Makin ke bawah, makin tampak aliran sungai itu. Sebelah kanan, ada juga air jatuh mengalir dengan kubangan air yang cukup dalam. Batu-batuan besar. Sebuah pipa air minum ada di sisi atas tempat kami berdiri. 



Curug dekat tangga




Curug Bagian Belakang
Jadi di tempat ini, ada tiga air terjun mengalir di sekelilingnya mengalir. Mungkin inilah filosofi dinamakannya “Curug Telu”. Sudah tidak sabar. Kami turun menuju tepian batu-batu itu. Keren sekali suasananya. Di belakang kami, air mengalir dengan debit air paling kecil. Air terjun yang paling utama tepat di depan kami. Lumut hijau terlihat di sisi tebing air terjung dengan air mengucur pula dari baliknya. Di sebelahnya lagi, ada sebuah gua kecil dengan bongkahan batu besar di mulutnya.

Curug Utama
Kami sudah tidak sabar merasakan air sungai itu. Brrrrr. Dingin sekali rasanya. Okeee. Tanpa berlama-lama, saya langsung mengganti pakaian saya dan menceburkan diri ke dalam sungai. Airnya dingin seperti es. Kubangan airnya tidak terlalu luas, kedalamannya tidak tahu seberapa dalam karena saya tidak sempat menyelam ke dasarnya, yang jelas airnya sangat hijau dan dingin. Mungkin kalau saya niat dan menyelaminya akan menemukan istana dengan para pengawalnya di bawah sana hahaha. Sayangnya saya kurang berani berenang ke arah jatuhnya air terjun, sebab airnya cukup deras dan suasana disana sepi sekali. Masih jarang didatangi orang waktu itu. Perasaan saya juga antara hati-hati dan mawas diri. Soalnya yang mandi hanya saya, yang lainnya masih asyik berfoto-foto. Hanya ada kami bertujuh saat itu.

Tanpa lama-lama, kami pun makan. Di antara kami, ada yang membawa nasi, mie goreng, ikan asin, air minum dan sambal. Kami menikmati makan pagi di atas bebatuan sambil ditemani suara air mengalir. Sungguh nikmat sekali. Setelah makan. Kami bermain-main disitu. Ada aliran sungainya yang kecil dengan batu-batuan besar. Berfoto-foto dengan gaya kalender tahunan, itu para cewek-cewek. Kalau saya, lebih merekam video dan menjepret  #PESONAINDONESIA yang saya dapatkan disana. Tak berlama-lama kami menikmati curug itu, pulang membawa sampah dan kenangan sebelum waktu jum’atan tiba.
Gambar pada Februari 2015. Sudah ramai dikunjungi orang-orang.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar