April 24, 2015

10 juta mau Traveling kemana ?

Nominal uang 10 juta tentunya lumayan banyak. Namun tak sedikit pula cara yang bisa kita lakukan untuk menghabiskan uang sebanyak itu. Uang yang memiliki sifat cepat habis apabila di tangan (cash on hand). Secara tidak sadar, uang terkadang membuat kita lupa diri dalam menggunakannya. Uang sulit dicari, tetapi mudah untuk dihabiskan. Meskipun uang bukanlah sumber kebahagiaan. Uang bisa memberikan apa yang kita mau dengan sebuah patokan harga atas sebuah produk barang/jasa. 

Seandainya Traveloka memberikan uang 10 juta, saya akan menjelajah dan mengulik betapa kayanya Nusantara. Alamnya indah, budayanya beragam, keseniannya apik, dan banyak surga dunia bisa kita temukan. Saya akan memilih Banyuwangi sebagai destinasi yang akan saya tuju.  Banyuwangi memiliki pesona Indonesia yang beragam.

Kota The Sunrise of Java ini memiliki salah satu dari dua kawah biru di dunia yang berada di Gunung Ijen, menariknya lagi memiliki tiga taman nasional diantaranya, TN Baluran, TN Meru Betiri, dan TN Alas Purwo. Selain itu, Bumi Blambangan mempunyai potensi wisata bahari yang meracuni saya untuk dapat mengunjunginya dengan segera. Pantai Plengkung terkenal dengan ombak kelas dunia , Pantai Sukamade tempat dimana populasi penyu yang lucu, Pantai Rajegwesi pantai pasir putih yang mengandung biji besi, Teluk Hijau yang menawarkan auranya yang kehijauan, Pulau Merah dengan pantai pasirnya berwarna merah, Selanggrong atau yang dikenal dengan Teluk Biru yang memberikan pancaran matahari pagi dan terumbu karang yang apik, belum lagi tempat lainnya yang mempunyai keindahan yang bisa kita nikmati. Tidak hanya potensi wisata, Banyuwangi pula memiliki kesenian yang terjaga, contohnya saja Tari Gandrung yang sering dipertunjukkan dalam berbagai festival. Bahkan festival disana pun banyak digelar yang pada intinya bertujuan untuk melestarikan seni, budaya, religi, hingga fashion dan olahraga. Di tahun 2015 ini, ada 36 festival yang siap menemani  wisatawan untuk mengeksplore Banyuwangi. Inilah beberapa alasan yang membuat Banyuwangi patut untuk dijadikan destinasi tujuan berlibur kita, terlebih pecinta jalan-jalan.

Itinerary perjalanan

Saya merencanakan perjalanan dimulai tanggal 6 Mei 2015 dari Purwokerto menuju Jogja dengan menggunakan bis , tarif Rp 60.000 . Lalu esok paginya pukul 07.15 WIB dengan menggunakan transportasi Kereta Api Sri Tanjung dari Stasiun Lempunyangan menuju Banyuwangi dengan tarif Rp 100.000 .  Sampainya disana pukul 21.00 WIB (sesuai jadwal KA), saya akan menyewa motor selama 4 hari untuk berkeliling selama disana, dengan estimasi sewa dan bahan bakar Rp 500.000 . Malam itu juga, saya akan langsung menuju Pos Paltuding untuk mendaki Gunung Ijen menyaksikan Blue Fire dan sunrise sekaligus menonton acara Festival International Tour de Banyuwangi - Ijen 2015. Jadi ini festival balap sepeda, yang terbagi dalam beberapa etape dalam mengelilingi Kota Banyuwangi. Untuk penginapan, saya memilih Watu Dodol Resort yang tidak jauh hanya berjarak 18,78 km dari Kawah Ijen. Total biaya hotel selama 3 malam Rp 1.233.915 .

Total Biaya Hotel di Banyuwangi

Keesokan harinya 9 Mei 2015, saya akan menuju Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo yang berjarak sekitar 20 km dari pusat kota. Apa yang akan saya lakukan disana antaranya adalah singgah ke pusat konservasi terumbu karang, menikmati suasana di Pantai Bangsring, lalu menuju Pulau Tabuhan untuk snorkling. Pemandangan bawah laut di sekitar pulau sangat bagus. Terumbu karang dan hewan laut bisa ditemukan dengan pesona airnya yang jernih.  Di pulau ini juga sering diadakan kitesurfing dan windsurfing yang memanfaatkan tiupan angin untuk memainkan kedua jenis olahraga itu. Total biaya menuju ke Pulau Tabuhan sekitar Rp 400.000 untuk 4 orang termasuk peralatan snorkling.

Petualangan masih berlanjut. Saya akan menuju Desa Muncar, Kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Disana, saya akan menuju Teluk Biru atau disebut Selanggrong. Teluk Biru hampir sama seperti Pulau Tabuhan yang menawarkan pemandangan bawah laut. Keunikannya terdapat sebuah sungai dengan daratan (legon) yang perairannya tenang dan sangat jernih. Memancing ikan sangat menarik dilakukan sebab tempat ini terkenal dengan kantong ikannya. Memancing kemudian memanggang ikan pasti akan seru untuk dilakukan. Saya akan berangkat dini hari agar bisa menyaksikan sunrise di tengah lautan. Total biaya kesana sekitar Rp 200.000/orang dengan menyewa perahu dan waktu tempuh selama 2 jam.

Masih banyak surga tersembunyi di Banyuwangi. Agenda berikutnya,  11 Mei 2015 adalah menjelajah beberapa pantai di wilayah bagian selatan. Antara lain Pantai Plengkung untuk menonton para peselancar bermain hebat dengan ombak yang besar, Pantai Pulau Merah untuk merelaksasikan diri, Teluk Hijau tempat yang istimewa untuk mengukir mimpi dan berakhir ke Pantai Sukamade melihat penyu.

Sekali mendayung, dua pulau terlampaui

Perjalanan selanjutnya, saya akan menuju Lombok dari Surabaya. Dari Banyuwangi menuju Surabaya naik kereta api dengan tarif Rp 100.000 dan melanjutkan naik Garuda Indonesia. 

Tiket pesawat Surabaya - Lombok

Garuda Indonesia terkenal dengan pelayanannya yang bagus. Maskapai ini bahkan memenangkan penghargaan kelas ekonomi yang sangat bagus akan pelayanannya. Untuk penerbangan Surabaya ke Lombok, bahkan maskapai ini yang paling murah harganya. Kurang apalagi coba. Dapat makan, bagasi 20 kg sudah ditanggung, bahkan airport tax sudah include. Total biaya Rp 545.261 .

Biaya tiket Surabaya - Lombok

Disana saya akan menuju Gili Trawangan, berkeliling disana naik sepeda, melihat sunrise, makan seafood, menonton sunset, bersosialiasi dengan orang baru, mandi di pantai, snorkling, selfie dan melakukan aktivitas lainnya. Pasti sedap sekali. Tak ketinggalan beberapa pantai di Lombok seperti Pink Beach , Pantai Kuta , Pantai Bloam, dan pantai lainnya akan masuk ke list destinasi saya.

Hotel di Gili Trawangan

Saya memilih hotel tersebut karena fitur review dan rating dari para pengunjung terhadap hotel tersebut sangat baik. Inilah salah satu kelebihan Traveloka yang menawarkan aplikasi booking hotel dan pesawat dengan referensi yang menjamin. Tanpa perlu ribet, tinggal klik, tak perlu berlama-lama, mudah digunakan, dan tentunya kualitasnya bagus.

Biaya hotel di Lombok

Tiket pesawat Lombok - Jogja

Naiknya Garuda Indonesia lagi dong. Kan maskapai terbaik Indonesia. Selain dapat makan. Pelayanannya bikin nyaman dan mengenakkan.
Biaya pulang Lombok-Jogja
Hotel di Jogja 

Menginap di Jogja semalaman sekalian jalan-jalan keesokan harinya sebelum pulang. Jarak bandara menuju ke Royal Ambarukmo sangat berdekatan. Tak ada salahnya beristirahat dulu sebelum pulang ke kota asal. Total biaya penginapan semalam Rp 1.192.084 .

Biaya hotel di Jogja
Kesan menggunakan Traveloka App

Kesan saat menggunakan aplikasi traveloka di andorid sangat mudah dan gampang banget digunakan. Fiturnya gak pake ribet. Pengaturan pencariannya juga lengkap, tinggal klik langsung muncul dan tinggal pilih mana yang kita pengen. Fitur rating dan review sangat membantu kita dalam menentukan pilihan. Selain itu, harganya lebih hemat dan sering juga dapet promonya. Pajak sudah include dan tidak ada lagi biaya tambahan lainnya. Jadi lebih cocok dan ngerti untuk mengatur keuangan saat traveling. Masih mau pake aplikasi yang lain? Kalo saya mah, Traveloka aja :)

Kesimpulan Biaya
  1. Bus Purwokerto - Jogja Rp 130.000 (pp)
  2. Tiket KA Jogja - Banyuwangi Rp 100.000
  3. Hotel di Banyuwangi 3 malam Rp 1.233.915
  4. Sewa motor + BBM selama 4 hari Rp 500.000
  5. Biaya perahu ke Pulau Tabuhan Rp 400.000
  6. Biaya perahu ke Teluk Biru Rp 200.000
  7. Tiket KA Banyuwangi - Surabaya Rp 100.000
  8. Tiket Pesawat Surabaya  - Lombok Rp 545.261
  9. Villa di Gili Trawangan 2 malam Rp 1.729.489
  10. Tiket pesawat Lombok - Jogja Rp 1.238.849
  11. Hotel di Jogja 1 malam Rp 1.192.084
  12. Estimasi makan selama 10 hari Rp 700.000
Total Biaya selama 10 hari traveling = Rp 8.069.598
Uang tersisa = Rp 1.930.402

Tulisan ini hanyalah perencanaan beserta opini ketika saya diberikan uang sebanyak 10 juta untuk traveling dan dalam rangka mengikuti kompetisi menulis dari TRAVELOKA #TiketGratisTraveloka. Wish me luck ! Aamiin

Poster Kompetisi


April 08, 2015

Ke Telaga Kumpe Sampai Menjadi Anak Layangan

Waktu semakin habis di kehidupanku. Tanpa terasa sudah menginjak bulan ke empat di tahun 2015. Ada banyak harapan yang harus diraih. Harapan orang tua, saudara, sahabat, dan teman-teman tercinta menjadi dorongan yang harus saya wujudkan, menambah semakin besarnya harapan saya sendiri. Malam ini sambil mendengarkan lagu-lagu karya Banda Neira sekaligus melepaskan beban pikiran dan mental untuk bisa mewujudkan harapan terbesar yaitu wisuda di Bulan September tahun ini, Aamiin Ya Allah. 

Okeeee lebih baik menulis tentang keindahan Indonesia, daripada pusing menulis skripsi yang tak kunjung rampung dengan revisi dari dosen yang sangat super baik saat bimbingan dan sangat gampang sekali untuk ditemui. Dosen juga manusia kawan, bukan malaikat. Oke lupakan !

Intronya ga enak banget ya. hahaha. 

Jadi hari sabtu kemarin (4/4/2015). Saya dan teman-teman saya mengunjungi sebuah telaga di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Awalnya saya overestimate dengan pesona Telaga Kumpe. Melihat beberapa foto di Mbah Google dan blog orang begitu terlihat ciamik dan syahdu tempatnya, bahkan sampai-sampai mantan presiden Bapak SBY saja sudah pernah mengunjungi telaga yang satu ini (katanya sih). 

Berangkat dari rumah menjelang siang sekitar jam 11.00 WIB. Menuju kesana dari Purwokerto sekitar setengah jam untuk sampai di Pasar Cilongok. Tak jauh dari situ, akan ada pertigaan lalu ambil ke kanan menuju Desa Panembangan. Ikuti saja jalannya sampai mentok pertigaan lagi. Lalu ambil ke kanan sampai melewati jembatan, ada lagi pertigaan dan ambil ke arah kiri. Terus saja mengikuti jalannya sampai ketemu lapangan bola di sebelah kiri. Nah disitu ada perempatan kecil, belok ke arah kanan. Jalan pelan-pelan saja sampai ketemu dengan perempatan lagi, tepatnya SD N 1 Sambirata, silahkan ambil ke arah kiri. Setelah itu, jalanannya mulai banyak yang rusak dengan mulai menanjaki bukit. Terus saja ikuti sampai ke atas. Melewati gerbang berbentuk bambu berwarna kuning dengan vegetasi hutan pinus. Lebar jalannya kecil dan menanjak. Suasananya sepi dan masih alami. 
Gerbang menuju Telaga
Dari kejauhan, ada bangunan seperti pos penjagaan di sebelah kanan. Tampaklah kubangan air yang tak begitu banyak volumenya. Bah, saya terkejut. Airnya surut men. Hahahaha. Sayang sekali ekosistemnya sedang tidak terjaga. Rerumputan mulai meninggi di bagian tengah dan ujung telaga itu. Untuk pemandangan sebenarnya cukup menarik. Perbukitan dengan pepohonan hijau di sekelilingnya. Ditambah udara yang sejuk, tenang, dan terasa sekali rasa alamnya yang khas dengan suara binatang hutan. Cuaca saat itu sedikit mendung. Benar-benar syahdu. Lupa sudah dengan rutinitas sehari-hari. Lupakan hari senin berikutnya. 
Telaga Kumpe
Pematang sawah. Hijau men. Liat warna kuning di perbukitan.
Tidak lama kami menikmati telaga itu. Berkeliling melewati hutan, area persawahan dengan bentuk terasering, hingga perkampungan. Di kejauhan dari tempat kami berhenti terlihat pohon dengan daun berwarna kuning seperti sedang musim semi. Keren sungguh. Sampai dengan jalan belum diaspal (masih berbatu), akhirnya kami memutar arah kembali. Melanjutkan untuk ke daerah Cipendok. Bukan menuju ke air terjunnya, tetapi berniat untuk mengunjungi peternakan sapi. Kenapa? Rekomendasi dari teman saya yang katanya tempatnya apik untuk dikunjungi alias hunting foto.


Melewati Desa Karangsari. Perjalanan menuju ke Cipendok jalanan mulus tanpa halangan. Saya senang sebab pemerintah sudah sadar memperhatikan akses jalan menuju obyek wisata. Eh, tak taunya, tidak sampai di atas men. Hanya sampai di bagian tengah saja. Jalanan selanjutnya kondisinya rusak parah. Aspalnya entah kemana, ada yang tinggal batu dan berlubang. Oke mungkin diperbaikinya bertahap, semoga.

Sampai di peternakan sapi. Hasilnya nihil, karena tidak sembarangan orang boleh masuk kesana dimana harus dengan izin kepentingan resmi. Jadi di peternakan sapi ini letaknya di perbukitan dengan rerumputan gitu, seperti bukit yang ada di serial Teletubbies. 

Peternakan sapinya yang bukit sebelah sana. Kalau bukit ini tempat memojokkan diri.
Akhirnya kami pun pulang. Belum jauh berjalan, ada beberapa motor terparkir di sebelah kiri. Langsung saja kami berhenti disitu berharap menemukan sesuatu. Menebak-nebak ada apa. Apakah warga desa sedang mencari rumput? Atau orang-orang sedang memojokkan diri? Ternyata sebuah dataran di atas bukit dengan pemandangan di sekitarnya yang luas. Di bawah sana dataran rendah yang luas. Di seberang, pohon dengan bunga berwarna kuning sedang bermekaran. Entah pohon apa namanya. Yang jelas, bunganya indah dan banyak tumbuh disana. Rupanya pula bunga inilah yang tadi kami lihat dari jauh. Kami menemukan pula tiga pasang hamba Allah duduk menikmati tempat itu. Dua pasang di antaranya berseragam SMA. Ajib men. Tempat mojoknya indah sih, mana sepi pula. Ada pula suatu adegan yang tidak harus saya lihat sebenarnya. Jadi tidak enak hati. Kedatangan kami sedikit mengusik mereka yang sedang duduk-duduk manis. Maaf ya hehehe.
Di atas bukit. Bunganya indah.

Entah bunga apa namanya. Mirip edelweis hehe.

Bukitnya keren kan. Main layangan di atas sini anginnya kenceng.
Tanpa tujuan. Kami melanjutkan jalan pulang melalui jalan yang berbeda. Masih di area peternakan sapi. Jalanan menurun. Saya melihat di atas bukit, ada anak-anak sedang bermain layangan. Sontak saya tertarik dengan aktivitas mereka. Kami pun menuju kesana. Bukit itu tidak terlalu tinggi. Sampai disana, anginnya lumayan kencang. Pemandangan sekitarnya menarik. Terlihat peternakan sapi yang dikelilingi pagar pembatas, lalu undakan bukit di sebelahnya, sampai dengan bukit yang tinggi di sebelah utara. Cuaca mendung dengan matahari sedikit kadang muncul. Saya mendekati anak-anak itu. Sok kenal bertanya-tanya. Mereka dengan malu-malu menjawab. 

Main layang-layang di bukit ini seru banget. Pengen lagi.

Kami bermain layangan bersama. Wahhh akhirnya bisa memainkan layangan dan merasakan menjadi kecil lagi. Benar-benar momen yang keren. Saya menjelma menjadi anak kecil lagi. Jadi layangan itu ada bagian yang menimbulkan suara pas terkena angin, bentuknya cukup besar, sayangnya benangnya tidak terlalu panjang dan bukan galasan, melainkan benang pancing hehehe. Maklum, layangan tersebut kreasi mereka sendiri. Mereka baik, ramah, kreatif, ceria, polos, berani dan sedikit pemalu. Semoga masa depan kalian sukses ya adek-adek! Aamiin . Setelah berfoto-foto banyak disana. Bercanda-canda. Seru-seruan. Kami pun pulang. Sebuah perjalanan yang benar-benar luar biasa. 

Jalan-jalan menikmati alam, bersosialiasi dengan orang baru, dan melakukan aktivitas yang tidak biasanya adalah nikmat yang harus selalu disyukuri. Terimakasih Tuhan ! Alhamdulillah, hidupku banyak asyiknya. Semoga masih diberikan waktu dan kesempatan untuk menikmati mahakarya Tuhan lainnya di belahan bumi lainnya, Nusantara-ku tercinta #INDONESIA.
Wefie dulu sama adek-adek