April 08, 2015

Ke Telaga Kumpe Sampai Menjadi Anak Layangan

Waktu semakin habis di kehidupanku. Tanpa terasa sudah menginjak bulan ke empat di tahun 2015. Ada banyak harapan yang harus diraih. Harapan orang tua, saudara, sahabat, dan teman-teman tercinta menjadi dorongan yang harus saya wujudkan, menambah semakin besarnya harapan saya sendiri. Malam ini sambil mendengarkan lagu-lagu karya Banda Neira sekaligus melepaskan beban pikiran dan mental untuk bisa mewujudkan harapan terbesar yaitu wisuda di Bulan September tahun ini, Aamiin Ya Allah. 

Okeeee lebih baik menulis tentang keindahan Indonesia, daripada pusing menulis skripsi yang tak kunjung rampung dengan revisi dari dosen yang sangat super baik saat bimbingan dan sangat gampang sekali untuk ditemui. Dosen juga manusia kawan, bukan malaikat. Oke lupakan !

Intronya ga enak banget ya. hahaha. 

Jadi hari sabtu kemarin (4/4/2015). Saya dan teman-teman saya mengunjungi sebuah telaga di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Awalnya saya overestimate dengan pesona Telaga Kumpe. Melihat beberapa foto di Mbah Google dan blog orang begitu terlihat ciamik dan syahdu tempatnya, bahkan sampai-sampai mantan presiden Bapak SBY saja sudah pernah mengunjungi telaga yang satu ini (katanya sih). 

Berangkat dari rumah menjelang siang sekitar jam 11.00 WIB. Menuju kesana dari Purwokerto sekitar setengah jam untuk sampai di Pasar Cilongok. Tak jauh dari situ, akan ada pertigaan lalu ambil ke kanan menuju Desa Panembangan. Ikuti saja jalannya sampai mentok pertigaan lagi. Lalu ambil ke kanan sampai melewati jembatan, ada lagi pertigaan dan ambil ke arah kiri. Terus saja mengikuti jalannya sampai ketemu lapangan bola di sebelah kiri. Nah disitu ada perempatan kecil, belok ke arah kanan. Jalan pelan-pelan saja sampai ketemu dengan perempatan lagi, tepatnya SD N 1 Sambirata, silahkan ambil ke arah kiri. Setelah itu, jalanannya mulai banyak yang rusak dengan mulai menanjaki bukit. Terus saja ikuti sampai ke atas. Melewati gerbang berbentuk bambu berwarna kuning dengan vegetasi hutan pinus. Lebar jalannya kecil dan menanjak. Suasananya sepi dan masih alami. 
Gerbang menuju Telaga
Dari kejauhan, ada bangunan seperti pos penjagaan di sebelah kanan. Tampaklah kubangan air yang tak begitu banyak volumenya. Bah, saya terkejut. Airnya surut men. Hahahaha. Sayang sekali ekosistemnya sedang tidak terjaga. Rerumputan mulai meninggi di bagian tengah dan ujung telaga itu. Untuk pemandangan sebenarnya cukup menarik. Perbukitan dengan pepohonan hijau di sekelilingnya. Ditambah udara yang sejuk, tenang, dan terasa sekali rasa alamnya yang khas dengan suara binatang hutan. Cuaca saat itu sedikit mendung. Benar-benar syahdu. Lupa sudah dengan rutinitas sehari-hari. Lupakan hari senin berikutnya. 
Telaga Kumpe
Pematang sawah. Hijau men. Liat warna kuning di perbukitan.
Tidak lama kami menikmati telaga itu. Berkeliling melewati hutan, area persawahan dengan bentuk terasering, hingga perkampungan. Di kejauhan dari tempat kami berhenti terlihat pohon dengan daun berwarna kuning seperti sedang musim semi. Keren sungguh. Sampai dengan jalan belum diaspal (masih berbatu), akhirnya kami memutar arah kembali. Melanjutkan untuk ke daerah Cipendok. Bukan menuju ke air terjunnya, tetapi berniat untuk mengunjungi peternakan sapi. Kenapa? Rekomendasi dari teman saya yang katanya tempatnya apik untuk dikunjungi alias hunting foto.


Melewati Desa Karangsari. Perjalanan menuju ke Cipendok jalanan mulus tanpa halangan. Saya senang sebab pemerintah sudah sadar memperhatikan akses jalan menuju obyek wisata. Eh, tak taunya, tidak sampai di atas men. Hanya sampai di bagian tengah saja. Jalanan selanjutnya kondisinya rusak parah. Aspalnya entah kemana, ada yang tinggal batu dan berlubang. Oke mungkin diperbaikinya bertahap, semoga.

Sampai di peternakan sapi. Hasilnya nihil, karena tidak sembarangan orang boleh masuk kesana dimana harus dengan izin kepentingan resmi. Jadi di peternakan sapi ini letaknya di perbukitan dengan rerumputan gitu, seperti bukit yang ada di serial Teletubbies. 

Peternakan sapinya yang bukit sebelah sana. Kalau bukit ini tempat memojokkan diri.
Akhirnya kami pun pulang. Belum jauh berjalan, ada beberapa motor terparkir di sebelah kiri. Langsung saja kami berhenti disitu berharap menemukan sesuatu. Menebak-nebak ada apa. Apakah warga desa sedang mencari rumput? Atau orang-orang sedang memojokkan diri? Ternyata sebuah dataran di atas bukit dengan pemandangan di sekitarnya yang luas. Di bawah sana dataran rendah yang luas. Di seberang, pohon dengan bunga berwarna kuning sedang bermekaran. Entah pohon apa namanya. Yang jelas, bunganya indah dan banyak tumbuh disana. Rupanya pula bunga inilah yang tadi kami lihat dari jauh. Kami menemukan pula tiga pasang hamba Allah duduk menikmati tempat itu. Dua pasang di antaranya berseragam SMA. Ajib men. Tempat mojoknya indah sih, mana sepi pula. Ada pula suatu adegan yang tidak harus saya lihat sebenarnya. Jadi tidak enak hati. Kedatangan kami sedikit mengusik mereka yang sedang duduk-duduk manis. Maaf ya hehehe.
Di atas bukit. Bunganya indah.

Entah bunga apa namanya. Mirip edelweis hehe.

Bukitnya keren kan. Main layangan di atas sini anginnya kenceng.
Tanpa tujuan. Kami melanjutkan jalan pulang melalui jalan yang berbeda. Masih di area peternakan sapi. Jalanan menurun. Saya melihat di atas bukit, ada anak-anak sedang bermain layangan. Sontak saya tertarik dengan aktivitas mereka. Kami pun menuju kesana. Bukit itu tidak terlalu tinggi. Sampai disana, anginnya lumayan kencang. Pemandangan sekitarnya menarik. Terlihat peternakan sapi yang dikelilingi pagar pembatas, lalu undakan bukit di sebelahnya, sampai dengan bukit yang tinggi di sebelah utara. Cuaca mendung dengan matahari sedikit kadang muncul. Saya mendekati anak-anak itu. Sok kenal bertanya-tanya. Mereka dengan malu-malu menjawab. 

Main layang-layang di bukit ini seru banget. Pengen lagi.

Kami bermain layangan bersama. Wahhh akhirnya bisa memainkan layangan dan merasakan menjadi kecil lagi. Benar-benar momen yang keren. Saya menjelma menjadi anak kecil lagi. Jadi layangan itu ada bagian yang menimbulkan suara pas terkena angin, bentuknya cukup besar, sayangnya benangnya tidak terlalu panjang dan bukan galasan, melainkan benang pancing hehehe. Maklum, layangan tersebut kreasi mereka sendiri. Mereka baik, ramah, kreatif, ceria, polos, berani dan sedikit pemalu. Semoga masa depan kalian sukses ya adek-adek! Aamiin . Setelah berfoto-foto banyak disana. Bercanda-canda. Seru-seruan. Kami pun pulang. Sebuah perjalanan yang benar-benar luar biasa. 

Jalan-jalan menikmati alam, bersosialiasi dengan orang baru, dan melakukan aktivitas yang tidak biasanya adalah nikmat yang harus selalu disyukuri. Terimakasih Tuhan ! Alhamdulillah, hidupku banyak asyiknya. Semoga masih diberikan waktu dan kesempatan untuk menikmati mahakarya Tuhan lainnya di belahan bumi lainnya, Nusantara-ku tercinta #INDONESIA.
Wefie dulu sama adek-adek

1 komentar:

  1. Kayaknya harus dijadwalkan untuk mencoba main di sekitaran Banyumas :-)
    Dulu sempat ke Pantai Ayah dan Cilacap, tapi dokumnetasinya entah dimana :-(

    BalasHapus