Mei 13, 2015

Reunian dan Liburan : Kisahku di Belitung

Aktivitas hari ini cukup padat dengan kunjungan ke kantor-kantor klien. Akhirnya pulang ke rumah dengan bahagia sebab cuti liburan sudah didapatkan. Hujan turun deras mengguyur Purwokerto. Rasanya sudah tidak sabar menanti hari esok. Ingin segera berjalan lebih jauh seperti lagunya Banda Neira yang sedang saya dengarkan. Menemani perjalanan pulang saya dari kantor.

Chat BBM mulai ramai. Obrolan semakin gila dengan candaan Dimcud. Antara becanda, ngejek bahkan hampir menghina mengenang (flashback) masa-masa kuliah. Sembari menyiapkan barang/kebutuhan yang akan dibawa. Saya kembali mengecek apa saja yang akan dibutuhkan selama disana. Pakaian, sepatu, obat, peralatan mandi, sepatu, sendal, daypack semuanya telah siap. Semuanya sudah di atas kasur. “oke good night cuds, have nice dream J dadahhhh”, saya pun mengakhiri chatting malam itu dan langsung tidur.

**

Telepon dari Agacud membangunkan tidur nyenyak saya. Mata masih sembab dengan suara masih serak, “halooo”. 
Dia langsung nyahut, “cuds, bangun. jangan telat ke stasiunnya”.
“iya, ngulet bentar. abis ini langsung mandi”, jawabku.
“oke sampai ketemu besok, dahhhh” tututututut..bunyi panggilan ditutup.

Saya melihat handphone masih pukul 01.30 WIB. Saya langsung packing kebutuhan yang sudah saya siapkan di atas kasur. Tak lupa pula, baju dengan gambar sketsa kami bertujuh yang sudah saya siapkan untuk sahabat terbaik saya. Tanpa berlama-lama kemudian bergegas mandi.

**

Kereta berangkat pukul 03.00 WIB menuju Yogyakarta. Kemudian melanjutkan dengan kereta ekspress menuju Bandara Adi Sucipto. Pesawat take off pukul 07.25 WIB menuju Tanjung Pandan. Pesawat mendarat cukup halus di Bandara Soekarno Hatta untuk transit.

Di area konveyor, “cuddddddd”, teriak Agacud dan Fisa. Mereka berjalan ke arah saya. Langsung peluk mesra di kerumunan banyak orang. 
“hoiii...kalian sampe jam berapa? yang lain mana?”, tanyaku. 
“Dari jam 9 cud udah kesini. Dimcud katanya udah sampe kok. Kalo yang lain lagi makan. Gimana kabar Purwokerto cud, main kali ke Depok, kerja mulu”, jawab Agacud panjang. 
“Ki, mana surprisenya? Katanya ada sesuatu”, celetuk Fisa. 
“baik cud, ya gitulah makin rame, jadi agak macet. Iya ada kok, eh emang kamu dikasih hahaha. Ntar lah sabar yak”. 
“yaudah yuk, kita ke yang lain dulu kan masih lama sejam lagi nih cud. Ahhh senangnya akhirnya rencananya terlaksana juga. Kita liburan yeeeeeeeee”, kata Agacud.

**

Dimcud, Tika, Novi dan Silvi sedang asyik menyantap makanan mereka. Dari kejauhan, terdengar berisik ga jelas seperti cacing kepanasan sambil tertawa lepas. Saya menduga, Dimcud sedang melucu. Gila emang, baru beberapa bulan gak ketemu ramenya udah kayak pasar. “halo halo. Lagi nunggu yakkk? Lahap amat, ga makan berapa hari mas?”, kataku. 
Dimcud langsung menjawab, “sapa yakkkk?”. 
“asem lu, begal juga nih”, sahutku.
“lah kamu udah disini dim, dianter sapa?”, tanya Agacud. 
“dianter supir, supir taksi”, ketawa ga jelas. 
“yaampun cud, kalian udah makin dewasa ya sekarang. Rizki, Dimcud udah gak cungkring lagi”, puji Silvi. 
“Novi apa kabar? Makin bening aja hari ini”, sapaku. 
“bisa aja ki, apaan sih hehee”, intinya dia seneng dipuji cuman malu-malu mimiknya. 
“Tika gimana di Semarang? Betah disana? Oya katanya daftar BI yaaa, gimana gimana?”. 
“alhamdulilah cud,dibetah-betahin. Kangen sih sama Purwokerto. Udah tahap wawancara cud, minta doanya ya cud. Semoga lolos hehe”. “amiiiinnnnn”, semuanya berdoa untuk Tika.

Setelah ngobrol ngalor ngidul, tak lama kami bergegas menuju ke ruang tunggu. Tujuan liburan kami adalah Tanjung Pandan. Ya, Ibukota dari Pulau Belitung. Saya merasa senang saat bersama sahabat-sahabat saya. Dari sejak pertama bertemu hingga didalam pesawat,  kami terus menerus ngobrol dan bercanda, bahkan sampai menjadi perhatian penumpang lainnya karena sesekali kami tertawa keras.

**

Antara senang dan haru. Sedikit sedih karena akan berpisah. Rasanya baru kemarin kami bertemu. Sekarang kami sudah di pesawat menuju Jakarta kembali. Untuk meraih impian masing-masing. Kembali di kehidupan masing-masing. Tak lama kami akan berpisah lagi. Waktu pun semakin habis. Semakin menggegoroti setiap kesempatan yang muncul di kehidupan saya. Momen selama 4 hari liburan, sangat berkesan di dalam hidup saya bersama orang-orang terkasih. Saya memandangi awan cumulus dari kaca pesawat. Mengingat kembali kejadian yang sudah kami alami bersama.

**
Saya teringat ketika pertama kali menginjakkan kaki dimana ada banyak batu granit berjejeran menjulang tinggi. Setelah melewati batu-batu tersebut nampaklah pantai pasir putih yang indah. Airnya biru jernih. Ditambah cuaca sore cukup cerah. Kami berada di Pantai Tanjung Tinggi. Lokasi setting film “Laskar Pelangi”. Suasana haru dan damai. 
“saaa, mana tongsisnya? Keluarin lah buruan foto pake baju baru nih”, kata Novi. 
“baru sampe udah mau foto-foto aja”, kata Agacud. 
“duduk dulu, tarik nafas, buang nafas, santai-santai dulu lah. Cieee baru, bayar sini. Kirain bajunya gratis apa?”, sahut Dimcud. 
“lu mau lahiran disini dim”, sahut Silvi tertawa kecil. 
“hahahaaa kaga, mau ngutuk novi jadi batu”, jawab Dimcud. 
“laaahhh malin kundang apa?”, sahut Tika. 
“apaan sih dim? eh kayanya bagusan foto di batu-batu sana deh”, kata Fisa. 
“disana rame, udah sini aje lah”, kata Agacud. 
“hahaha iya disini aja, momennya dimanapun bagus kok kalo sama cuds mah”, sahutku. 

Kami banyak berfoto menggunakan baju yang sama/kembaran. Baju kasual berwarna putih dengan gambar sketsa kami bertujuh. Sesekali melihat hasil foto ternyata terlihat keren. Rasanya benar-benar mimpi. Kami bisa bertemu di tempat yang amazing. Bisa bertemu lagi di saat rutinitas dan kesibukan bekerja masing-masing. Tidak berlama-lama disana, kami menuju ke pusat kota. Singgah di Pantai Tanjung Pendam untuk melihat sunset. Sunsetnya sangat cantik. Banyak warga lokal mengunjungi pantai itu, kebetulan pula saat itu libur panjang. Dari cerita penjual siomay katanya pantai itu bekas penggalian timah dan sekarang bekas tambang tersebut sudah ditimbun. Makin malam makin ramai. Kafe dan restoran live music ada banyak berjejeran.

**

Keesokan harinya, destinasi kami adalah menuju Belitung Timur. Belitung Timur menyimpan banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Tujuan awal kami yaitu Gantong dan Manggar. Sebelum berangkat, kami sarapan Mie Belitong di pasar Tanjung Pandan dan membeli kostum baru kami hari itu. Seragam merah putih seharga Rp 90.000 satu setel. Jadi seragam tersebut akan kami pakai layaknya Ikal dan kawan-kawannya meraih mimpi di SD Muhammadiyah Gantong. Awalnya anak-anak cewek menolak ide tersebut, namun akhirnya Dimcud mampu merayu mereka. Sebelum sampai di replika SD Muhammadiyah, kami mengganti baju dengan seragam baru. 
“yakin nih pake seragam ginian?”, kata Novi. 
“malu ih, diliatin orang-orang”, sahut Tika. 
“yaelah sekali-kali kapan lagi jadi anak SD di kotanya orang lagi, lagian kapan lagi bisa ketemuan dan seru-seruan kaya gini”, rayuku lagi. 
“yaudah, kalian aja yang foto berdua, kita yang cewe nuggu di mobil”, timpal Fisa. 
“kita berdua aja yang liburan kalo gitu, ayolah cud. Kapan lagi coba bisa ketemuan full tim begini, malu bareng-bareng ini”, jawab Dimcud. 
“yaudah iya, udah mahal-mahal masa gak dipake, ya bentar aja kalo malu”, kata Agacud. 
“duhhhh, ini idenya siapa sih ada-ada aja emang otaknya. Alingnya Novi lah masih cocok, lah gue muka tua begini”, protes Silvi.

Akhirnya dengan bujukan maut, rayuan dengan paksaan, para cewe-cewe mau juga turun dari mobil. Untung saja suasana saat itu sedang sepi. Kami berfoto-foto mengambil gambar dan momen. Eh tau-taunya, anak cewenya ketagihan, bahkan sampai 15 menit mereka masih selfie dan selfie. Mereka sudah teracuni dengan ide kami. Semakin siang, suasana mulai ramai, banyak orang melihat ulah kami dengan sorot mata tajam seperti melihat orang luar angkasa, kami hanya membalas mereka dengan cuek dan tetap jaim. Yang terpenting momen kami bermakna, menjadi kenangan yang tidak terlupakan. Tak lupa pula kami mengunjungi Museum Kata Andrea Hirata, Bendungan Pice, mencicipi kopi di Pantai Manggar, Pantai Burung Mandi, dan Vihara Dewi Kwan In. Perjalanan hari itu sangat luar biasa. Kami melihat banyak keindahan di Belitong Timur.

***

Pagi-pagi sekali kami sudah di Pantai Tanjung Kelayang. Destinasi utama dari liburan kami. “Ga sabar rasanya bisa melihat pemandangan di atas mercusuar itu”, saya sambil menunjuk ke arah Pulau Lengkuas. Di kejauhan pulau indah itu nampak dengan pohon kelapa di sekitarnya. Dikelilingi air berwarna biru jernih, pantainya berpasir putih. Tak lama, perahu kami pun berlabuh.

“pak, boleh naik ke atas mercusuarnya gak nih?”. 
“kebetulan sedang tahap renovasi, jadi sedang tidak bisa soalnya tangganya mulai berkarat”, jawab guide kami. 
“ya pak, demi apa? Boleh lah pak, tujuan kami kesini pengen naik atas”, sahut Dimcud. 
“iya maaf dek, karena alasan keamanan jadi ya ga boleh”, jelas guide. 
Dengan sedikit kecewa saya hanya menerima, “yauwislah pak okelah kalo gitu”.

Disana kami berfoto-foto, berlari-larian mengitari pantai, bermain air. Kami menikmati suasana. 
Tiba-tiba Tika membuka obrolan, “besok udah pulang aja..yahhh cepet banget ya baru ketemu kemaren”.
Agacud langsung tersentuh, “kapan lagi ya kita bisa kumpul begini. Pasti susah. Ini aja rencana dari kapan setelah wisuda”. 
“kita aja yang di Jakarta susah ketemu yak, apalagi Tika ama Rikzi yang jauh”, timpal Novi.
“tenang, tenang, cuds ga cuma disini doang kok. Jalan kita masih panjang cuds. Semoga masih ada kesempatan”,sahut Dimcud. 
“aamiiin, aku seneng banget bisa liburan bareng kalian, kapan-kapan lagi yuk”, jawab Fisa. 
“semoga aja, keluarga cuds sampe kakek nenek. Hihihi. Siapa yang mau nikah duluan gih,undangannya jangan lupa deh ya”, kata Silvi.

Saya sangat merasakan kebersamaa itu. Makin habis termakan waktu. Saat momen kami semakin susah dan jarang untuk bersama. Dimana rutinitas dan kesibukan masing-masing membuat kami semakin berbeda di jalur kehidupan masing-masing. Saya hanya menjawab, “semoga ga berakhir disini, sukses buat kalian semua”.

**
Tiba di Jakarta. Rasanya kaki ga pengen jauh dari CUDS. CUDS itu nama geng kami. Itu pula panggilan sayang kami. Ritual yang tidak pernah terlewatkan adalah ketika ulang tahun, hampir setiap tahun, dari Februari sampai November selalu merayakan ulang tahun dan memberikan surprise hadiah/kue kepada yang ulang tahun. Keistimewaan CUDS adalah ketika ejekan menjadi canda tawa, empati satu sama lain, ceplas ceplos, apa adanya, saling pengertian dan kebersamaan yang membuat semakin akrab cuds. 

Saya hanya percaya, waktu di masa depan masih ada. Semoga saja masih ada. Kami saling memeluk satu sama lain di bandara. Saya pun melanjutkan penerbangan saya ke Jogja. Tika melanjutkan penerbangan ke Semarang. Sementara yang lainnya telah kembali di Jakarta.



Poster Kompetisi


Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis .