Maret 17, 2016

R.U.M.A.H

Rindu. Aku rindu pada rumah.

Dulu gue pernah berpikir untuk tetep stay di rumah bersama kedua orang tua tercinta agar bisa tahu segala kondisi dan keadaan orang tua gue. Namun sebelum gue wisuda, tekad untuk hijrah (red:merantau) ke kota lain sangat kuat. Ego mengalahkan apapun. Gue pun tersadar, fase yang kakak-abang lebih dulu alami bakal datang juga ke kehidupan gue saat ini. 

Merantau bukanlah pilihan yang mengenakkan (baru terasa). Banyak hal yang berbeda dari kehidupan di rumah saat tinggal dan berkumpul bersama orang tua. 

Pernah ketika itu, orang tua meminta agar saya kembali ke rumah dan bekerja di sekitar tempat tinggal disana. Namun, kekuatan hati dan egoisme diri untuk mendapatkan keberhasilan di luar rumah (perantauan) begitu over ekspektasi. Merasa bosan berada di lingkungan yang sama memicu hati untuk mencari dan menemukan pengganti suasana dan kehidupan yang baru lainnya.

Baru terasa. Sekarang saya merindukan rumah. Keluarga. Kegiatan yang rutin saya lakukan di rumah. Rumah dimana zona nyaman saya senyaman-nyamannya. Tanpa banyak tekanan dan juga perjuangan.

Saya rindu rumah. Tempat dimana saya bisa berekspresi sebebas-bebasnya. Tempat dimana saya menghabiskan waktu bersama mereka orang-orang tercinta.

Lakon Kehidupan


Kehidupan selalu berbeda. Ibarat bersekolah, seperti naik kelas. Beban dan tanggung jawab semakin bertambah. Tinggal bagaimana kita melakukan untuk mampu menyelesaikan setiap fase yang berbeda.

Merasakan perbedaan kadang sulit (membutuhkan penyesuaian). Terlebih di luar zona nyaman, kadang pula mengalami kebingungan akan tujuan nantinya. Sebab akal dan pikiran terbatas untuk menjangkaunya. Hanya dapat berpegang pada waktu dan kesempatan meneruskan antara pilihan dan takdir-Nya menuju jalan yang tak berujung namun sudah direncanakan dan pasti akan sampai.