Translate

November 22, 2016

Wisata Adrenalin : Mendaki Gunung Parang via Ferrata

Matahari mulai menyeruak pagi diantara awan-awan putih. Sejuk udara terasa bersih dan sedikit dingin. Saya merasakan suasana pedesaan yang masih asri. Sepanjang jalan, saya mengamati jalanan yang kami lalui. Penduduk desa yang mulai beraktivitas keluar rumah. Hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan kerbau sesekali menghalangi jalanan kami menuju perhentian terakhir.




Di kejauhan, bukit tebing cadas meninggi kokoh. Puncak tebing itu terbelah dua lancip tersorot mentari. Kesanalah tujuan yang hendak kami tuju. Teman seperjalanan saya hari kemarin (29-30 Oktober 2016) bersama Bang Oji, Bel dan istrinya.


Tidak lama kemudian, sampailah kami di kampung Cihuni Badega Gunung Parang berada. Disana terdapat beberapa kelompok wisata yang sama-sama menyuguhkan wisata pendakian melalui ferrata.

Memasuki tempat wisata, terdapat jalanan menurun dari bambu. Saung-saung di pinggir kolam ikan. Di saung tersebut, ada pengunjung beristirahat, ada pula yang memasak dengan kompor lapangan. Lalu mengelilingi jalanan setapak di sisi kolam, kami melihat remaja-remaja bule sedang membersihkan diri. Camping ground dipenuhi tenda-tenda milik mereka. Menuju ke atas bukit, tepat di bawah Gunung Parang. Terdapat bangunan seperti pendopo, naik lagi kami berhenti di warung yang menyatu dengan penginapan milik pengelola obyek wisata tersebut. Diatasnya pula, terdapat dua saung untuk wisatawan menginap.


Pendakian dimulai pukul tujuh lebih. Kami berjalan melewati hutan sekitar sepuluh menit lamanya. Pendakian didampingi oleh Mas Aldi. Sebelum itu, kami memakai harnest yang sudah terhubung dengan tali dan carabiner, beserta helm. Mas Aldi pun menjelaskan tentang cara menggunakan carabiner yang terdiri dari dua bagian untuk dikaitkan diantara sling dan ferrata. Berdoa selesai, kami pun mulai memanjat tebing itu.


Ferrata (bahasa Italia) adalah tangga besi, yang dimasukkan ke dalam batuan tebing dengan cara dibor. Jenis batuan Gunung Parang adalah batuan andesit yang sangat keras. Ukuran besi yang dimasukkan sampai menembus kedalaman 10 cm. Berbentuk seperti huruf U. Menancap kuat sehingga mampu menopang berat beban ketika diinjak.


Pertamanya, kami memanjat tebing dengan santai dan pelan. Dengan hati-hati dan waspada. Kemiringan tebing bermacam-macam derajatnya. Alur ferrata pun random, tidak selalu naik. Kadang menyamping ataupun berbelok. Semakin naik, kami semakin terlatih. Semakin ke atas, semakin luas pula view yang dapat kami saksikan. Benar-benar indah pemandangannya. Petakan sawah yang gundul khas dengan tanah berwarna coklat. Pohon-pohon hijau di sekitarnya. Bukit berbentuk kerucut tepat di depan kami, tepat berada di pinggir Waduk Jatiluhur yang dilengkapi dengan tambak-tambak ikan di sekelilingnya. Di sisi kiri, terdapat Gunung Lembu, sementara di sisi depan banyak bukit-bukit menonjol ke atas.


Sesekali kami berhenti dan tertegun memandangi luasnya view di bawah kami sampai di ujung sana. Matahari mulai meninggi. Rasa panasnya menemani aktivitas kami pagi itu. Ternyata, waduk di depan kami sangat luas sekali, mengelilingi hampir 180 derajat lebih. Dari barat hampir ke tenggara. Di ujung sana tampak jembatan di atas bendungan waduk tersebut. Di dataran rendah sana yang sangat jauh, daerah Karawang terlihat.
 
Kami sangat menikmati suasana di atas sana. Indonesia memang surga kecil yang ada di bumi. Alamnya begitu potensial. Perjalanan kami masih panjang. Sampailah di spot untuk beristirahat. Area yang datar. Berhenti sebentar melepaskan dahaga. Untungnya kami membawa minuman dengan sedikit makanan. Lalu berfoto-foto mengabadikan momen.


Jalanan berbelok ke sisi tebing lainnya. Disitu terdapat spot untuk berfoto yang menunjukkan ketinggian karena berada di ujung tebing. Kemudian melewati tebing dengan kemiringan hampir 45 derajat. Benar-benar ngeri melihat ke bawah. Jurang yang dalam sekitar 400 meter lebih. Kami menyudahi titik pendakian kami di titik 300 mdpl dari titik awal menaiki ferrata. Memilih ke jalur bawah yang nampak lebih lurus alurnya.


Gunung Parang sendiri mempunyai titik tertinggi hingga mencapai ketinggian 900 mdpl. Untuk mencapai puncaknya via ferrata, kemiringan jalurnya pun makin ekstrim. Melalui titik tebing yang overhang. Selain melalui ferrata, Gunung Parang dapat didaki melalui jalur hutan.

Menuruni ferrata ternyata tidak begitu sulit layaknya menuruni kaki-kaki tangga. Mungkin karena aku sudah terbiasa menggunakan carabiner, bergantian mengaitkan yang satu di sling ataupun ferrata, maupun ke sling saja. Sling sendiri memanjang mengikuti alur ferrata. Terbagi-bagi dalam beberapa meter, terkait oleh pengait yang juga menancap ke dalam tebing, namun tetap menyambung satu sama lain.

Ini kali pertamanya aku memanjat tebing. Momen yang berkesan pula di sepanjang perjalanan eksplorasiku mengunjungi keindahan-keindahan Indonesia. Saya bangga sekali menjadi orang Indonesia, terlahir di bumi pertiwi yang alamnya sungguh sempurna.

Sampailah kami di titik akhir. Tepat selama 3 jam total waktu pendakian, seperti kata Mas Aldi. Kami kembali menuju basecamp (saung) untuk beristirahat dan mengisi perut yang sudah kelaparan. Tidak lama hujan membasahi Badega Gunung Parang. Hujan turun begitu deras. Kami pun tertidur pulas di dalam saung itu.

***
Esok paginya kami disuguhkan sunrise yang cukup epik. Tepat pukul lima pagi matahari mulai kembali ke peraduannya dari ufuk timur. Pertama gelap, sedikit oranye, lalu sepenggal menerawang. Mata kami tidak bosan menatap keindahan itu. Sungguh nikmatnya bisa berwisata ke Badega Gunung Parang. Suatu saat entah lusa yang jelas esok, saya ingin kembali lagi ke Gunung Parang. Buat kalian, jiwa muda yang cinta banget sama Indonesia, hendaklah segera mengunjungi obyek wisata Gunung Parang, siapkan nyali dan kantong anda untuk mendapatkan momen yang luar biasa. Obyek wisata ferrata satu-satunya yang baru ada di Indonesia.


Inilah salah satu dari banyaknya potensi wisata yang ada di Indonesia. Saya sangat merekomendasikan obyek wisata yang terletak di Kampung Cihuni Desa Sukamulya Kabupaten Purwakarta, karena selain mudah dijangkau, jaraknya tidak jauh dari ibukota Jakarta, kurang lebih tiga jam untuk sampai kesana. Kala itu, kami melewati tol keluar Cikampek lalu menuju Kota Purwakarta mengarah ke Jatuluhur. Namun terdapat pula aksea keluar tol lainnya, seperti via Tol Sadang dan via Tol Jatiluhur (yang lebih dekat dengan lokasi). Ketika kemarin, kami menuju Kecamatan Sukatani, tidak jauh dari Polsek Sukatani, akan menemukan jembatan, akan ada jalan sebelah kanan yang sedikit agak rusak sebab daerah itu kawasan tambang galian C. Dari situ, untuk sampai ke lokasi membutuhkan sekitar 30 menit dengab kontur jalan menanjak dan tentunya menurun. Melewati pematang sawah dan suasana perkampungan yang masih terjaga keasriannya.

Satu yang pasti, apa yang saya amati dari obyek wisata ini adalah terkait akses jalan infrastruktur yang masih apa adanya. Belum adanya petunjuk jalan dan marka jalan yang memadai. Jalanan ketika akan sampai lokasi semakin mengecil sekitar 3 meter, beberapa ada yang amblas betonnya (kemungkinan tanahnya labil). Saya hanya berharap akses pendukung mampu menambah kualitas obyek wisata ini agar semakin dikenal banyak orang, meningkatkan jumlah kunjungan dan bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi sekitar. Selain itu, inovasi harus terus dikembangkan seperti penerapan konsep eco-tourism pedesaan yang memanfaatkan kondisi dan lingkungan agar selalu dapat berkembang secara berkelanjutan. Karena Gunung Parang bukan sekedar unik, tetapi menarik di hati.


2 komentar:

  1. Wah ini keren banget loh.........kalo saya ajak anak2 saya umur 7 tahun kira2 apa diperbolehkan ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. boleh kok mas. yg penting hati2 trs dengerin apa kata guidenya selama climbing. seru banget mas disana viewnya oke. lagipula ngelatih mental anak juga untuk berani pas di atas ferrata (ketinggian), ya kegiatan positif lah.

      Hapus