Translate

Oktober 30, 2017

Umbul Sidomukti, Ekspektasi dan Realita di Kaki Gunung Ungaran

Aku sekedar tahu Umbul Sidomukti sebatas kolam renang dengan view alam yang sering ku lihat di akun-akun sosial media. Tidak banyak yang aku tahu tentang tempat ini sebelumnya. Sampai temanku Desy merekomendasikan agar aku berkunjung kesana sebab ternyata wisata ini berada di Kaki Gunung Ungaran yang sempat masuk dalam list destinasi wisata perjalanan yang telah ku rencakan sebelum berangkat dari rumah. Hanya saja aku membatalkan karena alasan cuaca yang sedang tidak begitu bersahabat.
Area titik pandang
Perjalanan ke Semarang kemarin adalah pengalaman pertama bagiku mengeksplore beberapa tempat-tempat wisata yang ada disana. Padahal aku menetap di Purwokerto sejak 2008, hanya 5 jam saja dari tempat tinggalku untuk sampai ke Semarang. Nyatanya aku baru saja menuntaskan perjalanan pertamaku selama 5 hari mengeksplore wisata yang ada di pusat kota hingga merambah ke Kabupaten Semarang.

Waktu tempuh selama satu jam lebih dari Goa Kreo di mana sebagai destinasi pertama kami hari itu. Dengan melewati Gunung Pati menuju ke arah Ungaran. Jalan yang kami lalui cukup bagus. Tidak lama, Gunung Ungaran semakin dekat saja. Sampai belok ke arah kanan, kami melewati jalanan kecil yang mulai menanjak dan semakin kecil. Untungnya jalanan itu beraspal jadi masih aman untuk dilalui meski sedikit bagian aspal yang tidak rata. Kontur semakin naik. Hamparan areal perkebunan di kanan kiri. Sampai di gerbang wisata kami membayar retribusi awal untuk kendaraan.

Tidak jauh, kami memarkirkan motor. Sampailah di pintu masuk Wisata Alam Umbul Sidomukti. Tiket masuk per orang membayar Rp 15.000 saja. Wisata Alam ini mempunyai banyak wahana yang dapat memacu adrenalin di atas ketinggian. Ada flying fox, triangle, sepeda awang, marine bridge yang kesemuanya wahananya berada di atas lembah yang terhubung antar dua bukit. Selain itu, ada pula ATV dan wisata naik kuda.

Wahan menaiki kuda mengitari jalanan sekitar
Aku berjalan menuju ke arah spot lanskap pemandangan disana. Terdapat kolam renang berbentuk seperti angka delapan. Pada bagian atas merupakan kolam renang dewasa yang terbagi menjadi dua kedalaman, yaitu 1,6 meter pada bagian kiri dan 1,3 meter pada bagian kanan. Sementara di bagian bawah, kolam renang untuk anak-anak yang ukurannya lebih kecil. Airnya berwarna kehijauan. Pada pinggiran kolam ini disusun batuan sebagai pagar pembatas yang terlihat alami. Ada air mancur di sisi kirinya.

Kolam di Umbul Sidomukti
Rasanya ingin sekali berendam. Merasakan dinginnya air yang berasal dari Gunung Ungaran. Sembari menyaksikan pemandangan di bawah yang sangat luas. Terlebih pengunjung saat itu tidak ramai. Sayangnya itu hanya bayang-bayang ilusi karena aku tidak membawa baju ganti.

Melihat di sebelah kiri, view punggungan kaki gunung menjorok ke bawah. Tidak banyak ditumbui pohon-pohon. Terlihat gundul dan berundak-undak. Sangat kontras berbeda pada punggungan gunung yang ada di baliknya, sangat lebat dipenuhi tumbuhan tropis kehijauan yang menyambung sampai ke puncaknya. Terlihat kabut putih menutupi sebagian puncaknya. Sangat penasaran berada di puncak sana. Aku berharap suatu hari entah kapan, semoga bisa menginjakkan kaki di atas sana.

Wahana yang berada di atas jurang menyambung diantara dua perbukitan
Aku turun lagi menuju ke bawah, berdiri di area spot pandang di mana hampir 180 derajat dari kanan hingga ke kiri lembah yang luas dengan bangunan acak seperti miniatur yang kecil sekali. Sejajar denganku, ada awan yang menggantung persis di depan sana. Pemandangannya beneran indah sekali.

View bukit dengan bentuk terasering
Wisata Alam Umbul Sidomukti bagiku sudah cukup bagus tertara. Terdapat fasilitas warung, toilet, kamar ganti dan area untuk beribadah. Selain itu, di sekitarnya ditanamai bunga-bunga dan tumbuhan sehingga membuat para pengunjung merasa betah ketika berada disana. Untuk mengikuti trend kekinian, terdapat pula beberapa titik area yang dapat digunakan untuk berswafoto dengan latar pemandangan yang bisa pengujung abadikan.

Area swafoto menghadap ke punggungan gunung
Disana aku banyak mengambil gambar dalam jepretan kameraku. Sesekali aku pun tertarik untuk mendapatkan fotoku dengan latar pemandangan disana. Kakak dan temanku mencoba berfoto dengan kuda disana. Kuda-kuda tersebut peranakan asli masyarakat sekitar. Ada yang berwarna putih dan jinak sekali. Sepertinya sudah terlatih untuk dapat bersahabat dengan orang-orang.

Apa yang aku rasakan ketika berada di Umbul Sidomukti untungnya berbeda dengan ekspektasiku. Di dalam pikiranku, sekilas terbayang ketika berwisata kesana hanya untuk jepret-jepret dengan mandi di kolam renang saja, nyatanya keindahan alam disana membiusku dengan pesonanya. Di kaki Gunung Ungaran yang sejuk, hijaunya hamparan perbukitan dipenuhi tumbuh-tumbuhan, lanskap di bawah sana yang indah dan dengan suara-suara alam yang menenangkan.

Perjalanan kami lanjutkan. Menuju ke bagian yang lebih atas kaki gunung. Mengarah ke Basecamp Mawar. Kami kesana tidak untuk mendaki, melainkan untuk menutup rasa keingintahuanku dan juga hendak makan ke Warung Kopi yang menurut penuturan temanku, warung ini sangat terkenal dengan tempatnya yang oke dan sering dikunjungi orang-orang.

Bersahabat dengan Kabut dan Angin di Pondok Kopi

Jalanan berkelok menanjak agak curam untuk sampai di lokasi ini. Di sekitaran kaki gunung terdapat banyak warung kafé dan rumah-rumah warga entah villa atau penginapan. Sebelum sampai, kabut turun menyapa kami di pukul 5 sore. Jarak pandang hanya beberapa ratus meter. Kami berjalan pelan. Semakin ke atas semakin pekat pula kabutnya. Terasa sangat dingin. Mungkin disebabkan tiupan angin yang cukup kencang.

Basecamp Mawar tidak jauh dari Pondok Kopi. Ada banyak orang disana yang hendak dan sehabis mendaki Ungaran memenuhi area depan pintu gerbang masuknya. Aku sempat bertanya kepada salah seorang disana tentang cuaca di atas. Dia tidak mendirikan tenda di atas, hanya tektok berangkat sedari pagi. “Sekitar lima jam untuk sampai puncak dengan berjalan santai”, kata dia.

Kami pun turun menuju Pondok Kopi. Memasuki tempat ini, hampir semua meja dipenuhi pengunjung. Ramai sekali dengan orang-orang. Tempat ini betingkat dua. Pada bagian bawah, di mana area dapur ada di bagian dalam. Area luar ruangan yang cozy sekali dengan pemandangan di bawahnya. Hanya ada meja kosong di lantai atas. Tempat ini terbuka dari pembatas dinding.

Kafe Pondok Kopi
Jelasnya magnet warung kafe ini menyoal tempatnya yang cukup menarik. Berada di ketinggian dengan konsep yang kekinian sesuai tuntutan zaman now. Saking ramainya pengunjung yang datang, pelayanan di tempat ini cukup lama sekali. Mungkin bisa dibilang kekurangan pelayan jika dibanding dengan pengunjung yang datang pada saat itu.

Kopi dan coklat panas diantarkan. Kabut tipis masih menyapa kami. Aku sudah memakai jaket namun tetap merasakan dinginnya udara disana. Baru berapa menit minuman hangat kami tergeletak di atas meja tetapi sudah mulai terasa dingin. Pemadangan di bawah sana, sesekali terlihat cahaya matahari yang menembus pekatnya awan. Angin pun benar-benar terasa sekali. Kami seolah saling berteman dengan fenomena alam disana. Ditambah hiruk pikuk orang-orang bercengkerama satu sama lain bersama orang-orang terdekatnya, termasuk diriku bersama kakak dan teman lamaku.

Pemandangan diantara kabut dan awan. Sedikit terlihat pekat.
Akhirnya makanan pun datang satu per satu. Aku melahap kentang goreng, lalu nasi goreng seafood yang ku pesan. Lumayan mengisi perutku yang sudah keroncongan sedari tadi. Aku pun mencicipi mie goreng yang dipesan kakakku. Untuk rasa makanannya relatif sesuai dengan harganya. Atau aku benar-benar merasa lapar. Atau udara yang sangat mendukung membuat kami doyan makan saat berada disana apalagi disandingkan dengan makanan dan minuman hangat.

Yummy.
Aku merasa betah berada disana dengan suguhan tempatnya yang indah. Meski cuaca mulai gelap, di mana kabut sudah menutupi pemandangan di sekitaran. Temaran lampu menyusul menyala. Aku bersahabat dengan pekatnya kabut yang menghampiri dan hembusan angin selama disana. Seolah-olah menyatu dengan alam. Sederhana. Epiknya, aku mendapatkan momen yang sungguh berkesan di bawah kaki Gunung Ungaran.

2 komentar: