Translate

November 21, 2017

BERLAYAR MENUJU KEPULAUAN POSEK

Pelepasan di kampus UIB
Hari yang ditunggu-tunggu datang jua. Pagi hari, kami menuju kampus UIB untuk melaksanakan acara pelepasan dari Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman yang diwakili oleh Bapak Suhendar. Acara ini diisi pula dengan acara talkshow kemaritiman, terkait Ekspedisi Nusantara Jaya. Seselesainya, kami menaiki bus menuju ke Pelabuhan Punggur. Semua peserta sangat bersemangat ketika selama perjalanan di dalam bus. Bernyanyi mars ENJ, mars Per*ndo, dan entah lagu apalagi.


Kicuk, Fatwa, & Ical
Sampainya di pelabuhan, kami segera mengangkut barang-barang bawaan kami dan menitipkan di truk milik penumpang kapal yang kebetulan akan menuju ke Dabo jua. Sekitar pukul empat sore, kami memasuki KMP Sembilang yang akan membawa kami menuju ke Kabupaten Lingga. Pelayaran menempuh waktu selama kurang lebih 14 jam. Malam harinya kami berkumpul di geladak atas. Melakukan diskusi rapat kecil terkait kegiatan-kegiatan yang akan kami lakukan di pulau tujuan masing-masing. Tidak ada sama sekali bayangan tentang pulau yang kami tuju. Memang kala itu, beberapa teman pernah menuju ibukota kabupaten namun belum mengetahui informasi secara menyeluruh tentang pulau-pulau yang direkomendasikan oleh pihak pemerintah daerah. Alhasil, kami masih meraba-raba rencana kegiatan yang akan dilakukan. Mengantisipasi beberapa perencanaan dengan praduga atas pengalaman masing-masing peserta.

Kapal Roro KMP Sembilang
Ada pula hal mitos yang sempat kami dengar tentang pulau-pulau yang kami tuju. Tentang adat istiadat yang dilarang dan harus dijaga. Semakin membuat ketir saja setelah mendengarkan cerita beberapa teman yang tahu tentang hal tersebut.

Tengah malam, kami melewati perairan Selat Cempa. Ombak disini sangat terasa sekali. Kapal terombang ambing begitu terasa. Beberapa teman merasa mual-mual kemudian tepar. Aku sendiri memilih turun ke ruang utama untuk menetralisir rasa pusing dan kobaran angina laut yang sangat kencang. Tidak lama, hujan mengguyur pelayaran kami malam itu. Aku tidur pulas di atas kursi penumpang kelas ekonomi.

Sehabis subuh, kapal hampir sampai di perairan Pulau Lingga. Matahari muncul di buritan timur. “Gunung Daik di sebelah sana”, kata seorang penumpang sambil menunjukkan. Seluruh peserta Tim ENJ Kepri memenuhi geladak atas untuk melihat surya pagi itu. Kemudian mengisi waktu dengan senam bersama dan meneriakkan yel-yel masing-masing. Semuanya saling berbaur satu sama lain.

Tambak ikan lepas pantai dekat Pulau Singkep
Kapal berlabuh di Pelabuhan Jagoh, Dabo, Singkep sekitar pukul tujuh pagi. Sampai disana, semua camat masing-masing sudah menjemput kami dengan angkutan elf yang akan kami gunakan untuk melanjutkan perjalanan berikutnya. Disini, kami mulai berpisah berdasarkan tim masing-masing. Tim 3 menuju Pulau Selayar menggunakan pompon sekitar 15 menit, sedangkan Tim 2 menaiki elf menuju ke Singkep Pesisir. Lain halnya dengan tim kami. Menaiki elf menuju Muara Sungai Buluh. Dilanjutkan menaiki perahu bermesin untuk mencapai Kepulauan Posek.


Nyebrang lagi naik perahu dari Muara Sungai Buluh
Sepanjang perairan yang kami lalui, ada banyak sekali pulau-pulau kecil tidak berpenghuni yang ditumbuhi pepohonan kelapa dan sebagainya. Hanya beberapa pulau saja yang berpenghuni. Itu pun, rumah panggungnya yang nampak bisa dihitung. Lautan lepas diantara luasnya samudera. Airnya berwarna kebiruan. Sangat bersih sekali.


Perairan menuju ke Posek
Suara mesin kapal sangat keras terdengar. Hampir 2 jam di atas perahu, kami memasuki wilayah Kepulauan Posek. Nahkoda perahu kami saat itu Pak Riyadi. Menjelaskan bahwa Kepulauan Posek terdiri dari beberapa pulau-pulau kecil yang tersebar. Transportasi utama yang digunakan adalah perahu untuk menyambangi antar pulau. Di perjalanan, ada banyak perahu kecil saling melintas entah kemana saja. Sebentar, aku melihat tentang kemaritiman di depan mataku langsung. Inilah awal dari tujuan yang ku cari.


Pesisir Teluk Nipah
Tidak lama, kami mendekati satu pulau di depan. Derrmaga kecil menjorok ke laut berwarna biru. Ada gazebo di ujungnya dengan atap segitiga. Di pulau itu, rumah-rumah panggung warga pesisir banyak berdiri hingga ke ujung. Semua rumah terbuat dari kayu. Dengan tonggak kayu sebagai tiang penyangga. Perahu ditambatkan dengan tali ke salah satu tiang kayu di belakang rumah panggung yang berada di atas pesisir. Perhentian kami sampai jua di Pulau Nipah. Disana, kami bertemu dengan Pak Nazar (BPD Posek). Pak Camat memberikan kepercayaan kepada beliau atas kedatangan kami selama di Posek nanti.


Dermaga Teluk Nipah
Tempat tinggal kami dibagi menjadi dua tempat. Anak perempuan tinggal di rumah kosong di wilayah RT 2, sedangkan kami anak laki-laki tinggal di sebelah rumah Pak Safi’i (Ketua RT 3). Disana, beramah tamah dengan warga dan anak-anak. Sangat bersyukurnya, kami dijamu dan dilayani dengan begitu hangat.


Rumah tinggal laki-laki

SEKILAS TENTANG KEPULAUAN POSEK

Kecamatan Kepulauan Posek merupakan kecamatan pemekaran baru dari Kecamatan Singkep Barat. Kecamatan ini terdiri dari beberapa pulau diantaranya Pulau Posek, Pulau Panjang, Pulau Noja, Pulau Suakbuaya, Pulau Mas, Teluk Nipah serta pulau-pulau kecil lainnya. Kecamatan yang dipimpin oleh Bapak Abdul Jamal ini bertanggungjawab atas pemerintahan kecamatan yang berumur baru beberapa bulan saja.

Peta Kepulauan Posek
Pusat pemerintahan kecamatan terletak di Tanjung Pering. Desa Posek. Potensi ekonomi yang terdapat di kecamatan ini adalah hasil tangkapan laut yang sampai diekspor ke Singapura. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan tradisional. Terdapat pabrik batu es dan tempat pengumpulan ikan yang berada di Pulau Mas Bangsal. Hanya ada beberapa sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Beberapa anak yang tinggal di pulau yang berbeda dengan letak sekolah, mereka harus berangkat dengan menggunakan pompong. Padahal hal tersebut sangat berbahaya sekali bagi anak-anak pulau, terlebih ketika musim ombak sedang kencang. Tidak terdapat sekolah menengah atas di kecamatan ini sehingga untuk melanjutkan pendidikan ke tingkat atas, anak-anak harus bersekolah di Dabo, Pulau Singkep. Di Teluk Nipah sendiri dulu pernah dijadikan sebagai kawasan tambang bauksit yang hanya beroperasi beberapa tahun saja.

Beberapa keterbatasan masih nampak sekali di kecamatan ini. Hal utama seperti keterbatasan jarak dan infrastruktur yang belum laik, membuat pulau ini cukup terisolir dari kegiatan ekonomi yang masih terbatas pada kegiatan penangkapan dan penjualan ikan di pabrik. Hal lainnya, kurangnya sumber air bersih dan sanitasi yang buruk menjadi persoalan yang sangat diperlukan. Hal ini tentunya agar masyarakat pesisir disana dapat hidup secara layak. Keterbatasan lain dalam hal infrastruktur yang masih menjadi PR penting bagi pemerintahan. Salah satunya sumber listrik yang baru hanya terlaksana di beberapa pulau. Pada waktu kegiatan tim ENJ melakukan ekspedisi kesana, petugas mulai membangun tiang jaringan kabel di Pulau Mas dan Pulau Posek. Masyarakat di pulau yang sama sekali belum mendapatkan akses litsrik, biasanya mereka menggunakan solar untuk tenaga mesin genset sebagai sumber penerangan yang hanya beroperasi beberapa jam saja. Kemudian terkait dermaga yang belum tersedia di beberapa pulau, sehingga ketingga air sedang surut, perahu tidak bisa berlabuh sampai ke daratan sehingga membutuhkan akses infrastruktur dermaga.

Baca kegiatan kami selama masa pengabdian dan merasakan menjadi warga pesisir di tulisan Cerita di Batas Negeri (I) J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar