Translate

November 21, 2017

CERITA DI BATAS NEGERI (II)

Daratan Teluk Nipah
Kegiatan pagi di hari keempat diawali dengan melakukan jalan santai bersama adik-adik di Teluk Nipah. Adik-adik membawa kami menuju pemukiman yang jaraknya lumayan jauh di arah bekas pertambangan bauksit. Berjalan hampir setengah jam lamanya. Disana kami singgah di salah satu rumah warga. Beramah-tamah, lalu memetik buah kelapa di depan rumahnya untuk dimakan bareng adik-adik. Rupanya awan mendung pagi itu menurunkan hujan yang cukup deras. Disana kami menunggu reda untuk pulang. Jalanan basah. Tanah merah setapak yang kami lewati digenangi air. Sedikit menanjak dan menurun. Hanya tumbuhan semak belukar di sekelilingnya. 

Menunngu reda sehabis makan es degan
Pada siang harinya, kami menyiapkan properti kecil yang akan kami gunakan saat aksi bersih pantai esok. Membuat tong sampah dari bekas jerigen besar. Memotong papan kayu untuk plang pantai. Mengecat dan membuat tulisannya.
Tempat sampah dari jerigen bekas
Menyiapkan plang kayu untuk aksi bersih pantai

Kegiatan hari kelima merupakan aksi paling menyenangkan bagiku. Hari itu kami semua berkunjung ke Desa Posek yang berjarak hampir satu jam menaiki perahu. Disana, kami melakukan aksi bersih pantai, beberapa mengisi kelas di SDN 005 dan gotong royong bersama warga sekitar untuk membuka jalur menuju ke pantai dan memberikan pernak-pernik di pantai agar semakin menarik dikunjungi. Selengkapnya baca cerita perjalanan kami pada tulisan berikut Pantai Obak, Surga Tersembunyi di Kepulauan Riau.

Hari ke Enam

Nelayan tradisional sedang menambal pompongnya yang bolong
Suara palu memukul-mukul kayu di dekat rumah yang kami tinggali. Lalu aku mendekati seorang bapak nelayan yang sedang menambal perahu pompongnya. Ku amati bapak itu memegang perekat kayu berwarna kehitaman dengan tali temali yang dimasukkan ke sela-sela bagian kayu yang berlubang. Perekat itu rupanya getah damar batu. Cukup lama aku mendengarkan cerita bapak itu yang kesehariannya pergi melaut sebagai nelayan. Dari cerita yang ku dengarkan, nelayan tradisional disana memiliki masalah seperti adanya penggunaan trawl (pukat harimau) oleh nelayan dengan kapal besar. Dikarenakan pukat tersebut menangkap biota laut yang ada di bawah sana secara masif. Jika dibandingkan nelayan tradisional yang menggunakan alat tangkap jaring lain, mereka mengalami keterbatasan penangkapan hasil laut yang cenderung lebih effortless karena sumber ikan dapat habis jika ditangkap oleh nelayan yang menggunakan trawl. Hal ini pula, terkadang menimbulkan konflik horizontal diantara nelayan.

Menjelang siang, aku bersama Bagus, Depoy dan Pusyu pergi ke Pulau Mas untuk bertemu Pak Kades. Disana, kami menyempatkan singgah ke kantor Desa Posek sebentar. Kantor desanya sangat sepi. Hanya ada dua orang pegawai yang duduk santai di ruang utama. Kemudian kami melakukan wawancara dengan ibu-ibu yang kesehariannya menunggu hasil tangkap udang dan ikan di tempat pengepulan. Ibu-ibu itu mengupas kepala udang dengan upah seribu rupiah per satu kilo udang yang dikupas. Pendapatannya tidak tentu tergantung hasil tangkap nelayan. Terkadang pula memotong ikan hiu. Dengan upah yang didapat sekitar seribu hingga sepuluh ribu rupiah per hari. Sungguh miris sekali.

Kantor Desa Posek

Ibu-ibu sedang mengupas kepala udang 
Menyisir ke salah satu rumah warga. Kami menuju ke rumah seorang kakek tua yang sudah cukup berumur. Kake Soot namanya. Tinggal di rumahnya yang sudah reyot. Ia tinggal bersama anak dan cucunya. Kesehariannnya bergantung kapada anaknya. Kami memasuki rumah kakek ini yang rupa bentuknya sudah tidak layak sekali. Atap bagian belakang rumahnya sudah tidak lagi tertutup. Kemudian papan kayu lantai juga bolong-bolong. Hanya di bagian depan saja yang masih sedikit lebih layak. Disitu terdapat kasur, baju-baju menggantung, dan bebera pa alat makan tergeletak. Berikut video wawancara bersama kakek tersebut.
Rumah kurang layak huni milik Kakek Soot
Sore harinya, saya dan yang lain kembali ke Teluk Nipah. Kegiatan selanjutnya membagikan pakaian layak pakai yang diberikan kepada beberapa warga yang sudah dikoordinasikan kepada ketua RT maupaun RW kepada siapa saja yang layak untuk menerima bantuan tersebut. Kegiatan lainnya pada hari ke enam adalah tim kesehatan melakukan sosialisasi di posyandu. Kak Titan dan Kak Anggi memberikan materi seputar GERMAS, gizi seimbang dan pentingnya ASI untuk bayi. Sementara kegiatan lain menjelang sore hari tim pendidikan yang digawangi oleh Novi dkk membuat pohon mimpi bersama adik-adik di sela agenda rutin program English Fun di dermaga. Kegiatan rutin lainnya adalah Mengaji BersamaMu yang biasa dipandu oleh Pusyu, Suju, Dina, Ervina, dan beberapa peserta ikhwan sehabis sholat maghrib.

Donasi pakaian layak pakai


Sosialisasi kesehatan di Posyandu
Pengajian bersama adik-adik

Hari ke Tujuh

Kegiatan hari ini adalah berkebun menanam sayuran di tanah kebun milik warga. Membabat rerumputan yang memenuhi kebun. Kebun ini hanya ditumbuhi tanaman berupa terong hijau, bayam dan mentimun. Tanahnya berwarna merah kecoklatan entah jenis tanah laterit atau liat.
Aksi berkebun
Sementara kawan-kawan menyebar benih di kebun. Aku bersama Bagus kembali menuju Pulau Mas untuk menggali informasi di pabrik es sekaligus tempat pengepul ikan. Banyak sekali informasi yang kami dapatkan selama disana. Tempat penampungan ikan ini dijadikan tempat pengepul hasil tangkapan nelayan-nelayan di sekitar Kepulauan Posek. Silih berganti kapal-kapal kayu bongkar muat. Sekiranya saja ada yang hanya membeli pasokan es batu yang dimasukkan ke dalam kotak berwarna kuning. Lalu aktivitas lain tentang pengemasan ikan-ikan yang hendak dikirim ke tempat pelelengan yang lebih besar ke Penuba untuk selanjutnya diekspor ke Singapura maupun Malaysia. Tempat yang hiruk pikuk sekali. Suara mesin pemecah es dengan roda penggerak yang menyambung dari arah pabrik. Mesin kapal yang bersandar seperti meletup-letup. Para pekerja sibuk melakukan aktivitas mereka. Ada yang sedang mengemas ikan-ikan di dalam kotak, lalu ditimbunnya dengan pecahan es agar tetap fresh. Ada yang memindahkan kotak ke dalam kapal dengan alat seperi crane kecil yang berada di kapal. Seorang lain seperti mandor yang mengawasi. Ia memegang kertas nota ketika ada kapal yang datang merapat. Ada pula juru hitung (kasir) di tengah-tengah biduk yang dibuat seperti loket terbuka. Pekerja lain ibu-ibu yang duduk manis menunggu datangnya hasil tangkapan udang dan ikan. Pekerja lepas ini biasa mengupas kepala udang dengan upah seribu per satu kilogram udang. Sesekali nelayan-nelayan datang membawa hasil tangkapan mereka. Di tempat ini pula, kami mendengar cerita berbeda terkait penggunaan trawl yang dilarang oleh pemerintah. Mungkin karena nelayan disini memiliki tonase kapal yang besar sehingga lebih pro terhadap adanya trawl dengan penjelasan lapangan yang mereka temui. Mereka juga resah dengan aksi penangkapan dan penahanan beberapa nelayan beberapa bulan lalu akibat penggunaan trawl sementara sosialisasi dari pemerintah sendiri mengenai prosedur dan pelaksanaan terkait regulasi kelautan belum terdengar jelas alias masih abu-abu. Mereka merasakan pemerintah acuh terhadap kehidupan nelayan di batas maritim yang seharsunya diperhatikan lebih sebab mereka sebagai garda terdepan yang tinggal dan menjaga pulau-pulau terdepan, terluar dan tertinggal Indonesia.
Trawl 
Ikan hasil tangkap nelayan siap dikirm ke negara tetangga

Aktivitas pekerja pabrik dan pengepul ikan, bongkar muat kotak-kotak berisi hasil tangkapan laut

Siang harinya, kami sebentar membantu warga di Pulau Mas memotong dahan pohon besar yang ditebang untuk pendirian tiang listrik yang akan dibangun disana. Listrik sendiri sudah diajukan sejak 2010. Setelah 72 tahun paska kemerdekaan baru lah tiang-tiang akan mulai dibangun. Sebelumnya mereka belum merasakan fasilitas listrik negara. Hanya sebagain warga menggunakan genset dengan bahan baku solar yang biasa dipakai beberapa jam saja menjelang malam.

Goro memotong dahan pohon
Tiba di malam terakhir di Teluk Nipah. Sehabis melakukan pengajian ba’da maghrib. Suasana mendadak melow sekali. Adik-adik mengerumuni kami satu per satu. Sebagian menulis surat. Membujuk kami agar tetap tinggal. Selepas adik-adik pulang, kami habiskan dengan mereview dan memberi ruang memori kebersamaan atas kegiatan yang telah kami lakukan selama disana.

Hari ini memasuki tahun baru 1439 hijriyah. Hari ini pula sebagai hari terakhir bagi kami. Pagi-pagi,  kami mengikuti acara syukuran di masjid. Memanjatkan doa-doa mengawali hari pertama di tahun baru. Kemudian menikmati makanan yang dibawa masing-masing warga. Seselesainya kami semua saling bersalaman, berpamitan, dan menuju dermaga untuk pulang. 

Syukuran Tahun Baru Hijriyah 1439
Pamitan kepada warga Teluk Nipah
Kepulangan diiringi ramainya warga dan anak-anak yang berkumpul mengantarkan kepulangan kami di ujung dermaga. Adik-adik histeris dan merasa sedih karena kami akan pergi meninggalkan mereka. Mereka meminta agar kami dapat datang kembali. Kami mengabadikan foto bersama-sama. Berterimakasih. Menghaturkan kata maaf dan selamat tinggal. Selesai sudah misi kami melaksanakan ENJ 2017. Ya, kegiatan kami telah selesai. Kami harus pulang. Perahu pun mulai berlayar. Sembari menyanyikan mars ENJ. Dadah-dadah ke warga. Mereka pun membalas salam perpisahan kami disana. Selamat tinggal Teluk Nipah. Selamat tinggal Kepulauan Posek.

Kenangan terakhir di dermaga
Warga melepas kepergian kami


Mengantarkan di ujng dermaga

Tiba di Muara Sungai Buluh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar