Translate

November 09, 2017

PENANTIAN MENUJU KE PELOSOK NEGERI

Poster ENJ 2017
Tahun ketiga program EkspedisiNusantara Jaya kembali dibuka. Pengumuman pendaftaran sudah diviralkan oleh pihak penyelenggara yakni Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia pada awal Juni. Salah satu program pengabdian kepada negeri yang telah ku idamkan sejak kegiatan perdananya tahun 2015. Saat itu, aku tahu program ini dari seorang sahabat yang akan melakukan ekspedisi ke Mentawai. Setelah kepo mencari-cari tahu info ini, akhirnya aku tertarik untuk mendaftar di tahun selanjutnya. Sampai pada 2016, aku pun mendaftar program tersebut dengan memilih ekspedisi tujuan ke Kepulauan Seribu karena dekat dengan domisiliku saat itu. Tak dinyana, harapanku gagal dari sekian 10.000-an pendaftar lainnya yang memilih Jakarta sebagai rute pelayaran. Oke, its ok for me. Masih ada kesempatan lain untukku.

Sampailah tahun ketiga ini. Tekadku masih utuh. Aku harus mencoba lagi dan lagi. Menariknya, di tahun ketiga ini kuotanya semakin banyak yakni 3.000 pemuda yang terdiri dari anak SMA yang berlayar menggunakan KRI, lalu jalur mahasiswa dan jalur pemuda/umum dengan menggunakan kapal perintis. Tujuan program ini diantaranya meningkatkan wawasan kemaritiman untuk generasi muda Indonesia untuk mengenal potensi maritimnya terutama di daerah 3T (terdepan, terluar dan tertinggal). Tidak hanya melakukan ekspedisi pelayaran yang tujuannya melatih kepribadian, tetapi juga mengabdikan diri untuk melihat, memahami, melakukan hal-hal kecil yang bermanfaat bagi masyarakat di daerah tujuan. Ibarat kata, pulau-pulau di pelosok negeri.

Aku pun mempersiapkan beberapa syarat pendaftaran seperti essay, surat izin orang tua, surat pengajuan diri, surat kesehatan, dokumentasi pendukung keterampilan dan mengisi formulir online pendaftaran agar semua berkasnya lengkap. Ada satu hal yang menggelitik ketika mengurus surat kesehatan waktu itu di Puskesmas Jombang, Tangerang Selatan. Kala itu ketika ditanya oleh petugasnya soal kepentinganku mengurus surat tersebut, dengan garingnya tertawa kecil memplesetkan ENJ menjadi ekspedisi harta karun. Pengen kali diribak mukanya. Surat kesehatan adalah formalitas semata untukku. Selembar kertas dengan tanda tangan dokter yang menjabarkan informasi seseorang dengan data fisik seperti tinggi, berat badan dan tekanan darah. Dengan membayar 30 ribu aku mendapatkan surat yang menyatakan bahwa aku sehat.

Esok harinya aku mendaftar dengan beberapa pertimbangan rute yang diantara Sumbar, NTT, dan Kepri. Pada pendaftaran gelombang 1, aku tidak menemukan rute provinsi di Jawa, kecuali Jakarta. Jelas aku tidak mau lagi memilih rute ini karena mengambil peluang dan kesempatan di rute lain yang pendaftarnya masih relatif wajar persaingannya. Akhirnya ku putuskan memilih Kepualauan Riau karena pelayarannya menuju Natuna dan Anambas. Suatu daerah yang sangat kaya dengan potensi minyak dan wisatanya pikirku.

Saya siap menjadi bagian dari ENJ 2017 
Sampai di tahap pengumuman, namaku dinyatakan lolos dengan 100 orang lainnya. Waktu itu di akhir Juni, masih dibuka pula pendaftaran gelombang 2 juga kesempatan untuk beberapa peserta cadangan atau lulus bersyarat untuk melengkapi berkas masing-masing. Sembari menunggu pengumuman akhir, aku mulai direnggut kompleksitas pekerjaan di kantor. Mulai menimbang beberapa pilihan dan kesempatan.

Juli untukku adalah hal ketar-ketir dalam pemilihan keputusan proses kehidupanku. Antara ingin resign atau mengambil izin panjang ketika mengikuti ENJ nantinya. Berkali-kali bercerita kepada keluarga dan teman. Aku pun mengajukan resign di akhir Juli. Sebab, surat PHK akan turun satu bulan ke depan. Sedangkan aku memulai ekspedisi di awal September. Sebuah keputusan yang berat memang. Namun ada hal-hal lain yang menguatkan keputusanku. Every person have their own path, I think. Ketika aku menyudahi, bukan berarti merasa kurang terhadap apa yang sudah aku capai. Kembali dengan berbagai kemungkinan dan harapanku ke depan. Bisa jadi, tahun depan tidak ada lagi program ENJ. Wallohu ‘alam sih. Bagi sebagian orang mungkin berpikir, manfaat apa yang didapatkan kecuali pengalaman. Aku sedikit kesal pula ketika materi digunakan sebagai skala pengukuran dalam sebuah pencapaian apalagi berhubungan dengan kegiatan sosial. Jelasmya aku hanya ingin belajar menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dengan hal kecil apapun itu, ditambah pengalaman baru yang didapat nantinya. Hal lain mendukung, aku sedang berada pada titik jenuh dengan rutinitas pekerjaanku. Ingin segera keluar dari zona nyaman. Hingga akhirnya aku mengecewakan orang terdekat atas pilihanku, resign dan I feel free!

PERSIAPAN KEBERANGKATAN  

Di hari keberangkatan, bertemu sahabatku yang barusan pulang mengabdi di Tanimbar, MTB.
Sampainya di Gambir setelah menempuh perjalanan dari Purwokerto, aku menuju Soetta menggunakan bus DAMRI. Siang nanti aku akan terbang ke Hang Nadim, meeting point bersama teman-teman lainnya dari beberapa provinsi di Indonesia yang sebagian baru berkenalan lewat sosial media. 


Kuy mengabdi kuy
Perjalanan udara hampir selama 1,5 jam dengan pemandangan langit yang berawan. Sampainya di atas langit Kepulauan Riau, pulau-pulau kecil bertebaran di sekitaran. Pulau Batam sendiri masih banyak ditemukan hutan-hutan gambut, sebagian dibabat nampak habis hanya tanah merah, jalan memanjang dengan rumah yang jarang. Pesawat landing pukul 16.20 di Hang Nadim. Segera keluar menuju conveyor untuk mengambil bagasi. Di lobby bandara, aku bertemu dengan Mba Laila yang berasal dari Semarang dan Luki dari Surabaya. Baru kami bertiga saja peserta yang datang dari luar kota. Sedangkan teman-teman lain baru akan datang esok hari dan lusa. Menjelang maghrib, Bagus datang menjemputku sehabis mengambil seragam di terminal kargo yang dikirim dari pusat. Setelah itu, aku bertemu dengan Pusyu, Suju dan Depoy. Malam harinya, bertemu dengan teman-teman lain di kafenya Bang Dian di daerah Batuaji. Malam itu kami ngobrol santai menjelang malam. Kami pulang larut malam pukul satu dini hari melewati jalanan Batam yang sepi di pinggirannya masih rapat akan pohon-pohon. Aku menginap di rumahnya Ari, foundernya Judulnya Indonesia. Gak taunya dia orang Pekalongan, owalah wong jowo toh sampeyan ri. Seduluran rek.

***
Sekitar jam sembilan, kami berangkat menuju kampusnya Ari. Hujan gerimis turun saat kami di tengah perjalanan dari Piayu. Beruntungnya kami sampai di UIB, tidak lama kemudian hujan turun sangat deras selama beberapa jam. Disana, aku menunggu Depoy untuk menemaninya ke kantor-kantor pemerintahan. 

Perhentian pertama kami menuju warung Mie Tarempa untuk makan siang bareng teman-teman. Ada Fatwa dari Makassar, Agus dari Bangka dan Mahmud asli Batam yang menjemput mereka. Setelahnya lanjut mengantarkan beberapa surat undangan pelepasan dan koordinasi dengan pihak ASDP mengenai jadwal keberangkatan kapal termasuk harga tiket keberangkatan kami.

Koordinasi dengan pihak ASDP, terimakasih wejangannya Pak Albert
Sore ini beberapa peserta mulai banyak berdatangan. Kami semua tinggal di basecamp di mana Bang Dian yang mengakomodir. Jadi teman-teman Batam sangat melayani kedatangan kami yang berasal dari luar Batam. Transportasi dan akomodasi dipersiapkan sangat baik sekali. Terima kasih untuk kawan-kawan Batam. Kalian mantap !

Kawan-kawan lagi beres-beres donasi
Sehari sebelum hari keberangkatan. Kami mulai menyortir pakaian dan buku-buku hasil donasi yang berhasil dikumpulkan. Pada ekspedisi esok, kami dibagi menjadi tiga tim pelayaran. Saya masuk di tim 1 dengan tujuan Pulau Posek, tim 2 menuju ke Pulau Singkep Barat, dan tim 3 mengabdi di Pulau Selayar.

Jalesveva Jayamahe.
Mari membangun untuk negeri.

Tunggu ceritaku menuju ke pelosok negeri di tulisan selanjutnya J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar