Translate

Desember 07, 2017

Gumbeng dan Batik Gumelem, Tradisi Warisan Leluhur

Indonesia memang tidak ada habisnya kalau berbicara tentang warisan budaya. Budaya yang terkenal hingga ke mata dunia mungkin baru hanya beberapa. Nyatanya teramat banyak seni budaya leluhur dari tiap daerah yang masih terjaga kelestariannya sampai sekarang. Meski sayang hanya sedikit saja dari generasi penerusnya yang turut menjaga dengan mempelajari tradisi-tradisi tersebut agar tetap eksis disandingkan dengan pergesaran majunya zaman di era globalisasi dengan senjatanya yang disebut teknologi.
 
Motif Batik Gumelem
Kesematan Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara sebulan yang lalu. Kami berkunjung ke beberapa desa di mana disana terdapat warisan budaya yang utuh dijaga oleh masyarakatnya. 

Kunjungan pertama menuju ke sentra pembuatan batik tradisional. Batik Gumelem dikenalnya. Gumelem sendiri merupakan nama desa yang masuk ke area Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Ada dua jenis motif Batik Gumelem, yaitu tradisional dan kontemporer. Yang kontemporer mengikuti perkembangan zaman, seperti contohnya motif gambar kuil jepang. Sedangkan motif tradisional lebih menggambarkan budaya atau kedaerahan tentang Indonesia, seperti ikan, bunga, bambu dan lain-lain. Ciri khas Gatik Gumelem aslinya bermotif udan liris dan rujak senthe. Untuk warnanya cenderung gelap seperti coklat, hitam, kuning dengan karakter bunga-bunga. Dalam perkembangannya muncul pula motif lain seperti semen klewer, dawet uket, parang kembang, sekar bumi, dan kopi banjar. Pada zaman baheula, seni batik disana mendapat pengaruh dari Keratonan Surakarta.
 
Peserta famtrip berpose menggunakan Batik Gumelem
Harga sehelai kain batik tulis Gumelem berkisar antara 150k - 300k. Harga yang cukup murah sekali bukan. Harga tersebut pula masih boleh ditawar. Sungguh disayangkan, pemasaran batik ini masih terbatas penjualan di sekitar Banjarnegara dan marketing word of mouth (promosi dari mulut ke mulut). Kebanyakan pembelinya adalah mereka yang interest seni batik. Sehingga pasarnya masih cukup terbatas. Padahal menurut saya, kualitas Batik Gumelen tidak kalah dengan batik-batik lainnya yang sudah terkenal seperti Batik Pekalongan, Lasem, ataupun lainnya. 

Menjelang siang, kami diajak mampir ke SMP N 2 Susukan. Disana untuk melihat para siswanya praktek membatik yang termasuk dalam pelajaran muatan lokal di beberapa  sekolah di Banjarnegara. Sangat bagus sekali bukan. Budaya membatik yang memang harus dipelajari oleh generasi mudanya. Berharap sekali generasi muda Indonesia dapat mencintai budaya kedaerahan dari hal yang diajarkan seperti ini.
 
Mencanting kain batik setengah jadi
Beberapa siswa sedang praktek mencanting dengan menggunakan melem. Kemudian ada yang mewaranai kain dasarnya. Ada yang menggambar motif di kelas sebelum digambarkan ke kain batik setengah jadinya. Ternyata proses membatik tulis sangat rumit sekali. Bisa-bisa pengerjaannya memakan waktu lebih dari seminggu. Memang sekarang membatik bisa menggunakan teknologi seperti cap (press). Tetapi batik tulis itu rasa seninya berbeda. Intuisi seninya dapet lah bisa dibilang. Berbeda kalo dicap dengan motif yang terlihat biasa saja. Maka itu, membatik sudah sepantasnya harus dijaga dan diletarikan. Saya saja pengen belajar mbatik tulis. Masa iya generasi muda Indonesia gak bisa mbatik, kan payah. Padahal batik sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia dari Indonesia. Maka itu, yuk bangga dan mulai belajar membatik.

Praktek membuat motif yang selanjutnya digambarkan ke kain batik

Gumbeng Alat Musik Penolak Bala

Sore harinya, ada lagi satu tentang budaya Indonesia dari Desa Pagak, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Jujur saja, aku baru tahu pertama kali ketika mengikuti famtrip kemarin. Namanya Gumbeng. Ada yang tahu gak? Jadi Gumbeng adalah alat musik tradisional masyarakat Desa Pagak yang terbuat dari bambu. Alat musik ini hampir sama seperti calung, tetapi ada bagian kulit bambunya yang disayat lalu dikaitkan bagian tertentu. Seperti senar untuk dapat menghasilkan suara ketika dipukul dengan sebilah bambu jua. Sangat unik sekali bukan? Indonesia memang kaya warisan budayanya ya. Makin bangga deh jadi Indonesia. Saya Indonesia. Saya Pancasila.
 
Ini loh gumbeng itu, dipukul untuk menghasilkan suara.
Jenis gumbeng itu ada dua macam yaitu gumbeng dan lindu (sepitan). Bahan baku utamanya adalah bambu wuluh dan bambu petung. Pada zaman dahulu, seni gumbeng ini dijadikan hiburan para petani setelah masa panen. Selain itu dianggap sebagai satu hal yang sakral untuk menghormati sekaligus mengantar Dewi Sri ke kahyangan karena dipercaya telah menjaga dan memelihara tanaman padi petani.
 
Pemain Gumbeng
Kegunaan lain Gumbeng adalah sebagai alat pengusir hama penyakit tanaman maupun penyakit anak-anak kecil (tolak bala). Ada upacara khusus dalam rangka menolak bala dengan kidung jawa. Alat musik ini biasanya ditampilkan khusus hanya alat gumbengnya saja namun perkembangan masa kini warga Desa Pagak mengkombinasikan dengan alat musik lain sebagai pengiring.
 
Diiringi bermacam alat musik dan sinden yang menyanyikan kidung jawa
Di pelataran pendopo, lagu pertama yang ditampilkan tentang Tolak Bala. Arti dari alunan musik tradisional tersebut bukan lain tentang mengusir hama dan penyakit yang ada di dunia ini. Syair mengandung makna permintaan kepada Allah agar tanaman dan penyakit dijauhkan dari masyarakat. Pada lagu yang kedua, kami didengarkan lagu khas para petani yang biasa didengarkan untuk saran hiburan setelah masa panen.

Ketika saya perhatikan, alat musik gumbeng dipukul dengan mengikuti irama kidung yang dinyanyikan. Dengan ketukan yang sama polanya. Sangat menarik sekali. Mendengar musik Gumbeng seketika saya berada di masa entah berantah. Dengan tradisi jawa masa lampau yang masih terjaga. Oh ya alat musik ini dimainkan oleh kebanyakan orang tua (sesepuh) Desa Pagak yang masih menjaga tradisi leluhur mereka agar tidak punah termakan zaman. Semoga warisan ini juga tetap lestari.
Indonesia kaya budaya
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar